Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Rokok Penyebab Kemiskinan. Selain menyebabkan sakit pada pemakainya, karena berbagai zat yang terkandung didalamnya seperti nikotin, tar, arsenik serta lainnya, rokok juga bisa membuat orang jadi miskin. Rata-rata penikmat rokok membelanjakan Rp 369.948 per bulan atau Rp 4.439.376 per tahun. Total pengeluaran keluarga miskin untuk membeli rokok sebesar 12,6 persen, menempati urutan kedua setelah beaya kebutuhan beras yang mencapai 15,5 persen.

Padahal, jika tidak digunakan membeli rokok, uang sebesar Rp 349.948 itu dapat memilih membeli 34 kg beras, 11 liter susu, 18 kg telur, atau 12 kg daging ayam. “30 persen  penduduk Indonesia adalah perokok aktif. Artinya 3 dari 10 orang adalah perokok. Dan 70 persen perokok adalah orang miskin, 20 persen mereka berusia antara 15 sampai 19 tahun,” kata Ahli kesehatan masyarakat Universitas Airlangga (Unair) Dr Sri Widati, S Sos, MSi., kepada Bisnis Surabaya Minggu(22/7) lalu.

Menurut sebuah penelitian di Jepang, kata dia, tinggal di kalangan perokok aktif efeknya sama bahayanya dengan perokok itu sendiri. Sehingga rokok bisa membunuh 657 orang di Indonesia tiap harinya. “Padahal, jika sudah sakit dan berobat di rumah sakit mereka menggunakan BPJS, yang sumber dananya juga dari mereka yang anti rokok,” jelasnya.

Untuk memberikan solusi kongkret terhadap permasalahan ini, Dr Widiati, dan Asosiasi Masyarakat Korban Rokok Indonesia (AMKRI) memberikan masukan kepada pemerintah untuk membuat kawasan tanpa rokok (KTR), larangan iklan rokok, mensosialisasikan peringatan kesehatan bergambar. “Kami juga merekomendasikan menaikkan harga rokok hingga ratusan ribu supaya tidak terbeli. Selain itu, menjual rokok eceran juga harus dilarang,” tambahnya.

Pada Minggu (22/7), korban rokok dan penggiat kesehatan anti rokok mendeklarasikan berdirinya AMKRI Jawa Timur/Jatim di BG Junction Surabaya. (nanang)