Kisah Penggiat AMKRI, Salah Satu Korban Rokok

534

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Penyesalan selalu datang belakangan. Demikian yang dialami, pecandu rokok, Setiabudi, seorang pemuda warga Sukodono Sidoarjo. Dia menyesal bukan kepalang, karena rokok dia menjadi seorang pesakitan.

Awalnya suaranya serak, susah menelan, dan susah bernafas. Hingga akhirnya dia harus merelakan pita suaranya diputus saat menjalani operasi kanker ditenggorokannya karena rokok yang dihisapnya yang sudah menahun.

“Saya sejak SMP sudah merokok. Awalnya saya melihat ayah saya yang merokok dan kemudian ingin mengikutinya hingga jadi seperti ini,” kata korban rokok Setiabudi, kepada Bisnis Surabaya Minggu (22/7) kemarin.

Setiabudi, memang pantas bersedih. Dia sekarang berbicara saja tidak bisa jelas karena tak lagi menggunakan pita suara. Berbagai upaya penyembuhan dilakukannya sebelum menjalani operasi. Mulai dari terapi, cemoterapi, radiasi hingga akhirnya menjalani operasi pengambilan pita suara.

Dan lubang bekas operasi di leher nampak terlihat jelas. Sehari-hari dia menutupinya dengan syal kain. “Andai saya boleh memilih, saya ingin kembali ke masa lalu dimana saya belum mengenal rokok,” kata Setiabudi, penuh penyesalan.

Kini Setiabudi, aktif di Asosiasi Masyarakat Korban Rokok Indonesia (AMKRI) yang didirikan penggiat kesehatan. Dia ingin berperan aktif mencegah timbulnya korban rokok seperti dirinya.

Untuk mencegah timbulnya korban rokok berikutnya, Setiabudi, berharap kepada pemerintah untuk nembuat regulasi agar setiap rokok mencantumkan kandungan rokok pada kemasannya. Supaya masyarakat tahu bahwa selain nikotin dan tar, rokok juga mengandung zat berbahaya lainnya seperti arsenik.

“Saya juga menuntut pemerintah agar menaikkan harga rokok sampai Rp 100.000 per bungkus dan pedagang tidak diperbolehkan menjualnya secara eceran supaya anak sekolah tak bisa lagi membelinya,” tambah Setiabudi. (nanang)