Kisah Tragis Juara Dunia Karate yang Tak Mendapat Perhatian Pemerintah

782

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Beda nasib atlit berprestasi. Fauzan Noor, adalah atlet karate yang berhasil mengharumkan nama Indonesia. Dia berhasil memenangi kumite (perkelahian) kejuaraan  dunia karate tradisional (ITKF) di Praha, Ceko, awal 2018 lalu.

Kehidupannya juga sama miskinnya dengan Lalu M Zohri, juara dunia lari dari Nusa Tenggara Barat/NTB. Bedanya, bila Zohri, mendapat perhatian pemerintah hingga Presiden Jokowi, tetapi nasib Fauzan Noor, yang semanis Zori. Bahkan, sampai kini pun tak ada yang memberi dia hadiah. Yang mengenaskan saat melamar menjadi anggota satpol PP di Banjarmasin, Kalimantan Selatan pun, dia ditolak. Tak ada tawaran dari TNI/Polri atau kementerian dan BUMN serta pemda yang menawari kerja.

Karateka Fauzan Noor (kiri), saat merayakan kemenangan usai melawan karateka Ceko.

Sungguh sangat ironis. Sama-sama menyandang predikat juara dunia tetapi beda perlakuan. Jika Lalu M Zohri, juara dunia junior lari 100 meter putra,  kini banjir hadiah, Fauzan, hanya bisa gigit jari. Sama seperti ketika berangkat ke Praha, hanya bermodalkan makanan mie instant dan kacang bungkus saja. Setelah jadi juara dunia, kehidupannya pun tetap saja pahit.

“Sepertinya kurang perhatian dari Pemprov Kalimantan Selatan tempat dia diberangkatkan, Federasi Karate Tradisional Indonesia (FKTI),  KONI, ataupun Kementerian Pemuda dan Olahraga,” kata pendamping Fauzan Noor,  Bian Uban  kepada Bisnis Surabaya Kamis (19/7) kemarin. Beruntunglah  masih ada Duta Besar Indonesia untuk Ceko, Dr Aulia Aman Rachman, yang hadir untuk memberi semangat Fauzan, dalam menjalani  pertandingan tersebut.

Masih adanya diskriminasi terhadap cabang olahraga, menjadi salah satu penyebabnya. Karate, mungkin dianggap tidak sepopuler sepakbola, badminton, tinju, tenis maupun atletik. Tetapi menjadi juara dunia karate tradisional (dasar karate) punya gengsi tersendiri. Perkelahian bebas tanpa kelas berat badan, tanpa pelindung tubuh. Di final, Fauzan, mampu mengalahkan karateka Ceko, yang tubuhnya lebih tinggi dan berat badannya pun lebih dari 20 kg dari dirinya.

“Ia harus menahan rasa sakit menghadapi pukulan dan tendangan lawannya demi Merah Putih,” tambah Bian. Lagu Indonesia Raya pun berkumandang di Praha seiring kemenangan Fauzan. Tetapi itulah kisah ironis yang dialami oleh atlet karate  Fauzan, yang sudah berhasil mengharumkan nama Indonesia. (nanang)