Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Bottom ash atau abu dasar kerap menjadi limbah utama bagi industri Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Hasil pembakaran batu bara ini biasanya ditimbun di area industri PLTU dan tidak dimanfaatkan secara maksimal. Apalagi abu dasar termasuk limbah Bahan Beracun dan Berbahaya (B3) yang tentunya menimbulkan bahaya bagi lingkungan.

Terkait hal tersebut, tiga mahasiswa dari Departemen Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya berhasil memanfaatkan limbah abu dasar sebagai material pemurni biogas yang ramah lingkungan. Ketiga mahasiswa tersebut adalah Pradena Bhesari Fitrah Laharto, Aristin Putri Kusuma Anggraini, dan Umirul Solichah Fauzany. Sedang pencetus ide dan pengarah utuk karya ini adalah mahasiswa pascasarjana Kimia, Randy Yusuf Kurniawan dibawah bimbingan Ir Endang Purwanti Setya N MT.

Menurut tim, biogas mengandung gas metana murni. Sementara gas metana di alam bercampur dengan gas pengotor. Untuk memperoleh gas murni tersebut dari alam, dilakukanlah teknik pemurnian gas alam. “Biasanya teknik pemurnian tersebut sangat mahal karena membutuhkan larutan kimia yang harganya relatif mahal. Berbeda dengan penelitian kami yang menggunakan limbah,” kata Randy, kepada bisnissurabaya.com Sabtu (14/7) kemarin.

Terkait dengan limbah yang digunakan, dia mengatakan, bahwa limbah abu dasar atau bottom ash yang diperoleh memiliki komponen penyusun utama, yakni silika. Silika dibentuk menjadi mesopori dan diteliti memiliki kemampuan untuk mengadsorpsi gas metana dari pengotor. Seperti karbondioksida dan asam sulfida. “Mesopori merupakan material padatan berpori yang memiliki ukuran meso. Yakni, 2 sampai 50 nanometer,” papar Randy.

Ketua tim, Pradena Bhesari Fitrah Laharto, menambahkan, silika mesopori masih belum cukup untuk meningkatkan daya adsorpsi gas metana. Perlu penambahan zat kimia polietilen glikol (PEG) 4000. Angka 4000 menunjukkan massa molekul PEG yang memiliki sifat kekentalan yang rendah. Sehingga ketika diimpregnasi dengan mesopori, maka porinya tak tertutup.

“Jika pori terbuka, maka adsorpsi gas metana menjadi lebih mudah dan molekul gas lain akan tertahan. Sehingga didapatkan metana murni,” tuturnya. Mahasiswa yang akrab disapa Fira itu, juga menjelaskan bahwa impregnasi merupakan teknik menambahkan suatu material seperti polietilen glikol kedalam bagian pori (Silika Mesopori).

Dalam melakukan penelitiannya, tim mengambil sampel limbah abu dasar sebanyak lima gram dengan kandungan berat 1,15 gram silika didalamnya. “Kandungan silika tersebut sangat sedikit, sehingga kami perlu meningkatkan kandungan silika dari 1,15 gram menjadi 2,165 gram dengan pemisahan besi dan kalsium agar bagus hasilnya,” jelas mahasiswa semester tujuh itu.

Anggota tim, Umirul Solichah Fauzany, juga menuturkan bahwa inovasi dari penelitian timnya ini berharap bisa dikembangkan dan digunakan oleh industri biogas sebagai material pemurni biogas yang ramah lingkungan. Sehingga biaya pembelian biogas oleh masyarakat tidak begitu mahal.

Tim ini berharap bisa membawa karyanya turut bertarung di ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) di Yogyakarta, akhir Agustus mendatang. Didalam ajang kompetisi bidang penelitian ini, diharapkan juga karya mereka mampu menjadi juara. (bw)