Iwan Sunito. (foto/dok)

Jakarta, (bisnissurabaya.com) – Tiga perusahaan arsitektur yang terlibat dalam pengembangan menara hunian baru menjadi keabanggaan bagi perusahaan di daerah Waterloo. Kolaborasi yang tercipta antara Kengo Kuma dan Koichi Takada yang pertama kali di dunia.

Penegasan itu dikemukakan Komisaris dan Group CEO dari Crown Group, Iwan Sunito, kepada bisnissurabaya.com, Jumat (13/7) kemarin. “Kengo Kuma dan Koichi Takada memiliki gaya dan etos unik masing-masing, yang sesuai dengan keinginan Crown Group untuk mendorong batas-batas desain,” kata Iwan, yang juga Arek Suroboyo, yang sukses membangun property elit di Australia ini.

Kedua arsitek ini, kata dia, telah terbukti sebagai pemimpin sejati dibidangnya. Terkenal karena kreativitas mereka. Kolaborasi keduanya akan mengarah pada sesuatu yang baru dan unik untuk Sydney. “Kami sangat bersemangat untuk dapat mengambil langkah berikutnya dalam melanjutkan jalur desain kota Sydney yang semakin dikenal akan keunikan arsitektur kotanya.

Proyek ini akan menjadi tambahan hunian baru berdesain modern di daerah Green Square, Sydney yang sedang berkembang,” kata Iwan Sunito.

Proyek ini, menurut dia, akan menjadi pengembangan ketiga bagi Crown Group di Waterloo, setelah proyek pemenang penghargaan, Viking by Crown Group yang sudah diselesaikan pada 2014 dan Waterfall by Crown Group yang diluncurkan pada tahun lalu. Kengo Kuma mendirikan Kengo Kuma and Associates, Inc. pada 1990 dan perusahaan telah menciptakan sejarah panjang di negara asal sang arsitek Jepang.

Tetapi, kata Iwan, tahun lalu melakukan pekerjaan pertamanya di Australia dengan menara di kawasan Circular Quay Sydney dan The Darling Exchange yang merupakan bagian dari rencana Pemerintah NSW senilai Rp 34 triliun untuk mengembangkan kembali kawasan Darling Harbour. Kengo belajar di Universitas Columbia di New York City dan berhasil masuk dalam lima besar Dezeen Hot List tahun lalu.

“Tujuan kami adalah untuk memberikan suasana yang hangat dan alami kepada masyarakat dengan strategi desain yang unik,” kata Kuma. Volume atas menara secara mulus berubah menjadi bagian bawah teras untuk menciptakan keintiman antara skala bangunan dan skala pejalan kaki pada level jalanan. (bw)