Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Program kesehatan, pendidikan, sosial, dan tenaga kerja merupakan kebutuhan dasar yang menyangkut harkat hidup orang banyak di Jawa Timur (Jatim). Karena itu, memerlukan dukungan berbagai pihak  termasuk rumah sakit/RS swasta dalam mewujudkan pemenuhan hak masyarakat dalam layanan kesehatan yang murah dan berkualitas.

“Kehadiran Rumah Sakit Islam Surabaya (RSIS) Jalan A Yani  Surabaya ikut memperkuat fasilitas pelayanan kesehatan berkualitas di Jatim. Dengan kualitas tersebut, diharapkan RSI semakin berkontribusi aktif dalam melakukan upaya promotif dan preventif kesehatan bagi masyarakat Jatim,” kata Gubernur Jatim, Dr. H. Soekarwo, saat mendampingi Wakil Presiden RI, Dr. (HC) H. Muhammad Jusuf Kalla meresmikan Gedung Graha RSIS, Kamis (12/7) kemarin.

Pakde Karwo, sapaan akrab Gubernur Jatim mengatakan, secara struktur, fasilitas pelayanan kesehatan di Jatim sudah sangat lengkap. Mulai dari tingkat desa dimana terdapat 5.721 Pondok Bersalin Desa (Polindes), dan 3.213 Pondok Kesehatan Desa (Ponkesdes). Kemudian di tingkat kecamatan terdapat 964 Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas), dan 2.720 Puskesmas Pembantu (Pustu), hingga terdapat 377 Rumah Sakit (RS) di tingkat kabupaten/kota.

“Dari 377 Rumah Sakit itu, sebanyak 75 persen sudah terakreditasi. Dari seluruh  RS di Jatim, 70 persen-nya adalah RS swasta. Karena itu, kami memberi apresiasi kepada RSIS yang terus meningkatkan pelayanan yang berkualitas bagi masyarakat,” kata Soekarwo. Ia menambahkan, meski fasilitas tersebut sudah lengkap, namun diharapkan pelayanan kesehatan diseluruh tingkat, mulai desa hingga kabupaten/kota, bahkan pusat, agar lebih mengutamakan penguatan fungsi promotif dan preventif. Yakni, mempromosikan gaya hidup sehat dan pencegahan penyakit

“Jadi konsepnya adalah bagaimana agar orang hidup sehat, bukan mengobati atau menyembuhkan orang sakit (kuratif). Pembiayaan di BPJS sebagian besar adalah di kuratif. Saya pikir konsep JKN akan jebol jika konsep utamanya adalah menyembuhkan orang sakit. Kita harus lebih mengutamakan upaya promotif-preventif,” tambah Gubernur kelahiran Madiun ini.

Salah satu upaya promotif-preventif adalah dalam menangani gizi buruk. “78% penyebab gizi buruk adalah karena asupan makanan, jadi kita harus terus melakukan edukasi dan sosialisasi pengetahuan tentang asupan makanan kepada masyarakat. Dalam kesempatan ini, Wakil Presiden (Wapres) RI, Jusuf Kalla memberikan apresiasi terhadap kemajuan pembangunan fisik dan peningkatan layanan rumah sakit yang berada dibawah pengelolaan Yayasan Rumah Sakit Islam Surabaya (Yarsis).

“Ini RS yang memiliki sejarah panjang dan terus mengalami kemajuan. Karena itu, kami harapkan dengan pembangunan Graha RSIS ini akan melengkapi niat baik dan upaya kita memiliki layanan kesehatan yang islami,” puji Wapres asli Sulawesi Selatan ini.

Wapres yang akrab disapa Daeng Ucu ini juga menjelaskan, selain kemajuan pendidikan, syarat untuk menjadi bangsa yang besar, salah satu faktor yang menentukan adalah kemajuan pembangunan di bidang kesehatan. “Jika bangsa ini ingin besar, tentu masyarakatnya harus produktif, agar bisa produktif, tentu harus sehat. Jadi kita harus bangun kesehatan,”katanya.

Rumah Sakit, lanjut Wapres, merupakan salah satu faktor penentu kemajuan kesehatan. Karena itu, pria kelahiran Bone ini meminta RS untuk terus meningkatkan SDM tenaga kesehatan, teknologi, hingga keramahan atau hospitality-nya. Ditambahkan Wapres Jusuf Kalla, perbaikan fasilitas rumah sakit tersebut tetap harus dibarengi dengan kesehatan lingkungan serta perilaku masyarakat. Karena itu, masyarakat diharapkan bisa menjaga kebersihan lingkungan serta pola hidup yang sehat agar terhindar dari masalah kesehatan.

Wapres Jusuf Kalla juga berkesempatan meninjau beberapa ruangan yang ada di gedung ini. Mulai dari poli umum, disusul dengan hemo dialis ruang cuci darah, kemudian menuju lantai empat di ruang Mekah rawat inap. (nanang)