Malang, (bisnissurabaya.com) – Buah-buahan merupakan komoditas pertanian yang berprospek tinggi. Hal ini dikarenakan hasil jumlah produksi dan permintaan pasar yang terus meningkat. Terdapat banyak jenis komoditas buah yang sering menjadi incaran pasar. Salah satunya buah jambu biji. Hal ini terbukti dari hasil luas panennya yang meningkat pesat.

Pada 2016 luas panennya mencapai 26.769 ha yang pada awalnya hanya 8.864 ha di tahun sebelumnya. Hal ini sesuai data Badan Pusat Statistik/BPS dan Direktorat Jenderal Hortikultura, 2017.

Firdausi

Contohnya, di Kampung Inggris Kediri, sekelompok tani yang dipimpin Abu Thoyib, membudidayakan buah jambu biji dengan luas total lahan 3.562,5 meter persegi. Mereka sukses menghasilkan ± 21 ton buah dalam 3 kali masa panen, dari 522 pohon yang produktif menghasilkan buah. Tetapi, mereka juga selalu mengalami kerugian ± 5 ton buah dalam 3 kali masa panen dikarenakan buahnya busuk.

Berbeda dengan kelompok tani lainnya, kelompok tani ini tidak menggunakan pestisida, melainkan melakukan pembungkusan buah dengan plastik ketika buah berumur 2 minggu.

Hal ini, untuk menghindari serangan hama yang merupakan penyebab busuknya buah. Rata-rata petani hanya mampu melakukan pembungkusan buah dengan plastik sebanyak ± 1000
buah per orang setiap harinya.

“Inilah penyebab utama banyaknya buah yang busuk. Hal ini dikarenakan teknik yang mereka gunakan dinilai kurang cepat, terbukti masih banyaknya buah yang tidak dapat dibungkus setiap harinya,” kata Mahasiswi Pertanian Universitas Brawijaya/UB Firdausi kepada Bisnis Surabaya Selasa (10/7) kemarin.

Dampaknya, banyak buah menjadi busuk sebelum sempat dibungkus. Selain itu, pengecekan kematangan buah yang dinilai lambat juga menjadi faktor banyaknya buah menjadi terlalu matang yang berujung busuk sebelum sempat dipanen para petani.

“Sistem kerja yang lambat ini juga menyebabkan kelompok tani ini tidak mampu memenuhi permintaan pasar sebesar 5 ton per 3 hari selama musim panen,” jelas perempuan berhijab ini.

Untuk mengatasi masalah di atas, Firdausi (FP) dan rekan rekannya M. Rikza Maulana (FMIPA), Satrio Wiradinata Riady Boer (FMIPA), Adin Okta Triqadafi (FMIPA), dan Venny Seftiani (FMIPA), dengan dibimbing Dosen Zubaidah Ningsih AS, S.Si., M.Phil, berhasil menciptakan inovasi teknologi berbasis digital bernama FASTER FROVER Wrapper and Positioning Marker Fruit Cover).

Alat ini ditujukan untuk memudahkan para petani buah melakukan pembungkusan buah dengan plastik ketika buah masih berumur 2 minggu.

“Sebagai inovasi teknologi pembungkus, alat ini memiliki sistem pengunci yang digunakan untuk mengunci plastik agar kuat ketika diaplikasikan pada buah,” tambah perempuan asli Jember ini.

Selain sistem pengunci, alat ini juga dilengkapi dengan GPS. Sehingga dapat mencatat waktu dan lokasi pemasangan plastik ketika pembungkusan yang berguna agar memudahkan para petani di kemudian hari untuk mengetahui kematangan dan lokasi buah siap panen tanpa harus turun ke lahan langsung, dan nantinya dapat dilihat pada smartphone yang dimiliki para petani dengan menggunakan aplikasi khusus.

Setelah diuji, alat yang diberi nama FASTER FROVER ini mampu membungkus buah ± 500/hari lebih banyak dibanding pembungkusan dengan teknik yang biasa. Bila dirupiahkan dengan harga rata-rata di pasaran, keuntunan yang diperoleh dapat meningkat 58 persen dalam 3 kali masa panen.

Hal inilah yang menjadikan para petani yakin bisa menaikkan keuntungan. Selain para petani dapat langsung mengecek kematangan melalui smartphone mereka, FASTER FROVER lebih disukai para petani ketika melakukan pembungkusan karena tidak lagi harus menggunakan steppler seperti biasanya. (nanang)