Surabaya, (bisnissurabaya.com) – “Sejak awal Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) beranggapan bahwa Pasangan calon (Paslon) No 2 tidak bersih dan dicurigai akan berbuat curang,” kata Sukadar, saksi pasangan calon no 2 kepada Bisnis Surabaya kamis (5/7) lalu.

Itulah kegusaran yang disampaikan Sukadar, kepada sejumlah awak media. Dia beranggapan bahwa ini adalah ganjalan dan keganjilan yang terjadi saat pelaksanaan coblosan dan penghitungan.

“Nanti dirapat pleno pasti saya luruskan,” Itulah janji yang disampaikan Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Surabaya beberapa saat sebelum rapat pleno rekapitulasi perhitungan suara pilgub jatim 2018 tingkat kota Surabaya digelar.

Sukadar saksi paslon 2 (baju hitam).

Acara rapat pleno perhitungan suara pemilihan gubernur Jawa Timur 2018 tingkat kota Surabaya dimulai Kamis (5/7) pukul 11.00 WIB dipimpin Nurul Amalia, Divisi Teknis KPU Surabaya.

Dan dihadiri 5 orang komisioner Panwaslu Surabaya, 31Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK), dan saksi masing-masing paslon. Saksi paslon 1 Laily dan Agus Sudarsono, sedangkan saksi paslon nomor 2 Sukadar.

Saksi Paslon 1 sempat ditolak memberikan usulan oleh ketua rapat karena tidak membawa mandat, kemudian haknya berpendapat sebagai saksi diberikan setelah surat mandat disusulkan. Rapat pleno ini bertujuan untuk memastikan jumlah perolehan riil suara masing-masing calon di setiap kecamatan.

Jalannya persidangan banyak diwarnai interupsi oleh Sukadar. “Peraturan KPU (PKPU) No 8 Pasal 25 huruf C3 sudah jelas, setiap masyarakat yang hadir harus membubuhkan tanda tangan, tapi ada satu TPS yang ditandatangani oleh KPPS,” jelas Sukadar yang juga Ketua Badan Saksi Pemilu Nasional PDI Perjuangan Surabaya.

Ia menjelaskan, jika ketentuan dilaksanakan KPPS maka tidak akan terdapat selisih antara jumlah suara di kotak dengan absensi (C7). Selain diwarnai interupsi saat pemaparan oleh PPK, juga ada permintaan buka kotak suara untuk TPS 6,7, dan 40 Kelurahan Tambaksari.

Hal ini karena ada selisih antara jumlah pemilih yang hadir dengan jumlah suara yang masuk. “Bisa jadi hal ini terjadi tidak hanya di Surabaya, tetapi di JawaTimur,” jelas Sukadar. Rapat berakhir jumat (6/7) dini hari dengan hasil perolehan suara, paslon Khofifah-Emil 579.246 suara, Ipul-Puti 560.848 suara.

Suara sah 1.140.094, sedangkan suara tidak sah 26.390, total suara sah dan tidak sah mencapai 1.166.484. Nurul Amalia, selaku pimpinan rapat menyatakan bahwa hasil penghitungan suara akan segera disetor ke KPU Jawa Timur, untuk dilakukan rekapitulasi tingkat provinsi pada Sabtu (7/7) ini.

Walaupun rapat pleno sudah ditutup, Sukadar, yang juga asli arek Simo ini masih terus melakukan interupsi dan menolak hasil rapat pleno serta tidak mau menandatangani berita acara perhitungan. Keberatan yang dilakukan Sukadar, tentu akan jadi pembahasan tersendiri di rapat pleno rekapitulasi tingkat provinsi. (nanang)