Direktur Konsorsium Lingkungan Hidup, Imam Rochani (kiri). (Foto/nanang)

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Penemuan ikan Arapaima di Surabaya. Arapaima, pirarucu, atau paiche (Arapaimagigas) adalah jenis ikan air tawar terbesar di dunia yang berasal dari perairan daerah tropis Amerika Selatan. Ikan Arapaima dapat tumbuh maksimal sepanjang 3 meter dan berat 200 kilogram.

Saat ini sudah sangat jarang terdapat Arapaima yang berukuran lebih dari 2 meter karena ikan ini sering ditangkapi untuk dikonsumsi penduduk atau diekspor ke negara lain. Mulut dan giginya yang besar dan tajam dapat dipastikan ikan ini termasuk predator yang akan memakan semua jenis ikan.

Ikan Arapaima gigas termasuk salah satu jenis ikan invasif yang dilarang masuk ke Indonesia. Karena ukurannya yang besar, dan bukan ikan asli Indonesia, ikan tersebut tidak memiliki competitor pemangsa (predator) alami di alam. Hal itu menjadi pertimbangan Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No 41/2014 tentang Larangan Pemasukan Jenis Ikan Berbahaya dari Luar Negeri ke dalam Wilayah Negara Republik Indonesia. Untuk melarang ikan jenis predator tersebut masuk ke Indonesia.

Ikan ini masuk ke Indonesia untuk dipelihara di akuarium atau kolam, menjadi daya tarik pengunjung di lokasi wisata. Ikan tersebut menjadi daya tarik, karena menjadi ikan air tawar terbesar di dunia. Panjangnya dapat mencapai tiga meter. Memelihara ikan Arapaima bukanlah perkara yang mudah. Selain sifatnya yang predator, beayanyan juga sangat mahal. Rata – rata setiap ekor ikan Arapaima yang dipelihara membutuhkan 2 kilogram ikan lele untuk kebutuhan konsumsinya. Memelihara ikan Arapaima juga tak bisa asal-asalan.

Kondisi kolam dan cara perawatannya sangat mempengaruhi kondisi ikan. Selain itu, ikan arapaima bukan termasuk jenis ikan yang bisa hidup di sembarang tempat. Hidupnya harus di air tawar dan bukan di sungai atau di laut. Beberapa hari ini keberadaan Surabaya dihebohkan oleh kemunculan ikan arapaima yang berhasil ditangkap oleh warga di Rolak Sungai Gunungsari. Salah satu warga, Hariyanto yang menangkap ikan itu mengatakan, dia melihat ikan Arapaima tampak dipermukaan sungai pukul 05.30 WIB. Lalu bersama temannya, dia menangkap ikan tersebut dengan menggunakan jaring dan mengamankannya ke kolam ikan di Kuliner Pinggir Kali.

“Kami menyerahkan ikan Arapaima Gigas seberat 30 kilogram dengan panjang 1,5 meter tersebut ke Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Surabaya,” kata Direktur Konsorsium Lingkungan Hidup (KLH) Imam Rochani, kepada bisnissurabaya.com Surabaya Selasa (3/7) lallau. Waktu diamankan di kolam ikan, diberi makan lima ekor ikan. Dalam waktu beberapa menit ikan sudah habis dimakan. Dapat dibayangkan jika ikan ini tidak tertangkap, maka akan banyak ikan di Kali Surabaya yang bakal dimangsa oleh ikan asli Amazon tersebut.

Ikan Arapaima yang berhasil ditangkap nelayan itu nantinya akan dirawat di BKIPM Puspa Agro Sidoarjo sambil menunggu instruksi dari Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pujiastuti. “Ikan yang dilepas ke sungai Surabaya sebanyak 18 ekor pada 25 Juni 2018 lalu. Setelah seminggu, kini sudah 17 ekor yang ditangkap dan masih tersisa satu yang belum ditangkap di Kali Surabaya,” tambah penerima penghargaan Bung Tomo Award Bidang Lingkungan ini. Geger ikan Arapaima bermula dari seorang pria berinisial G, seorang kolektor ikan yang memelihara ikan Arapaima gigas.

Sejak ikan tersebut masih berukuran kecil, Ikan tersebut dipelihara di rumahnya. Kemudian setelah 12 tahun dilepas liarkan di Kali Brantas. Dikhawatirkan ikan Arapaima gigas yang populasi aslinya di Sungai Amazon, Brasil dapat merusak populasi ikan di aliran Sungai Brantas, karena sifatnya yang predator dan invasif.

Sementara aliran Sungai Brantas sendiri oleh kelompok pecinta lingkungan ditetapkan sebagai wilayah suaka ikan. Sampai hari ini penyidik Balai Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu Surabaya I telah memeriksa sembilan orang yang dianggap bertanggung jawab atas penyebaran ikan Arapaima Gigas di aliran Sungai Brantas sejak seminggu terakhir. Seorang diantaranya mengaku masih menyimpan 30 ekor ikan predator tersebut di rumahnya di Desa Canggu Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto. Tapi 30 ekor ikan jenis predator saat ini sudah diserahkan secara sukarela oleh pemiliknya.

Terkait dengan motif penyebaran ikan yang terkenal dengan sebutan ikan monster itu sampai ke aliran Sungai Brantas, Imam Rochani, menyampaikan ada 2 motif. Pertama tidak lagi kuat membiayai pemeliharaan ikan. Kedua ada motif tertentu terhadap ekosistem di Kali Brantas. “ Motif ini yang yang belum jelas dan sedang kita dalami,” tambah Imam Rochani, yang juga menjabat Kepala Lembaga Pendidikan.

Imam Rochani, berharap kedepan tidak ada pemilik ikan Arapaima yang melepaskan ikan-ikan miliknya ke Sungai Brantas atau sungai-sungai lainnya. Karena ikan Arapaima adalah jenis predator menjadi berbahaya manakala penyebarannya dilakukan secara tidak alami. Sifat-sifat Arapaima yang cenderung invasif, predator, kompetitor, dan karnivora akan memutus mata rantai ekosistem biota di Sungai Brantas.

“Sesuai visi dan misi Konsorsium Lingkungan Hidup, kami akan lakukan sekuat tenaga untuk menjaga ekosistem Kali Brantas dan anak sungainya termasuk Kali Surabaya,” tambah warga Karah ini. (nanang)