Elis Dinda

(bisnissurabaya.com) – Setiap pengusaha pasti pernah mengalami  pasang surut dalam usahanya. Pada saat seorang pengusaha dengan tabah dan tekun menghadapi setiap masalah yang menderanya maka akan datang pertolongan dari tempat yang tidak disangka-sangka. Demikian juga dengan Elis Dinda, seorang pengusaha makanan dimsum siomay kelahiran Surabaya, 15 Oktober 1978. Seperti apa kisahnya?

Perempuan warga Sambisari Surabaya ini, sebelumnya adalah pengusaha kuliner ikan bakar. Dia mempunyai tiga outlet di Surabaya, yakni di Jalan Jakarta, Darmo, dan Arjuno. Awalnya, usaha tersebut laris manis. Namun, seiring dengan berjalannya  waktu usahanya  tutup satu persatu.

“Pada 2016, saya mengalami banyak ujian. Saya dan anggota keluarga sakit. Terus mobil yang direntalkan dibawa lari orang. Sungguh terasa berat cobaan ini,’’ kata Owner Miracle Siomay Surabaya Elis Dinda kepada Bisnis Surabaya, pekan lalu. Hanya berbekal uang Rp 1 juta ditangan, ibu empat anak ini memutuskan pindah dari kontrakannya yang ada di Dukuh Pakis ke Sambisari.

Di tempat baru tersebut dia memulai usaha pembuatan dimsum siomay ke sekolah-sekolah. Awalnya dia hanya mampu menjual 1 kilogram dan menghasilkan uang Rp 250.000. “Alhamdulilah, sekarang saya mampu menjual 1.000 sampai 3.000 per hari,” kata perempuan yang tetap terlihat cantik ini.

Dimsum siomay buatan Elis, memiliki banyak varian rasa pampam potato, siomay sosis roll, siomay kepiting, siomay nugget, siomay keju, siomay jamur, siomay brokoli, siomay goreng, cyoza, dan kaycat. Dagangannya tersebut selain dijual secara online instagram, facebook, dan whatssap juga dijual di outlet di foodcourt Tunjungan Plaza 2, Siola, Hocky dan pusat oleh-oleh Ibu Rudy.

“Saya juga memiliki beberapa resaler dalam dan luar kota Surabaya,” jelas perempuan yang juga pengusaha advertising. Produk olahan makanan ini sudah beredar di Jawa Timur/Jatim, Bali dan Papua. Bahkan di Manokwari pernah beberapa restoran sempat bersaing memperebutkan hak distributor tunggal siomay untuk wilayah Papua.

Saat ini perempuan yang akrab disapa cece sudah menjalin kerjasama penjualan resep untuk wilayah yang dulu disebut Irian Barat. Istri dari Bambang Trijanto, ini selalu menjaga kualitas produknya dengan cara menggunakan bahan berkualitas yang segar. Mulai dari ayam, bumbu sampai tepung. Karena itu dia sangat sedih bila mendapatkan ayam yang kualitasnya jelek.

Ibu dari Dinda Putriana, Malahayati, Violita, dan Chiko Eduardo Kwan ini  selalu menimbang semua bahan yang digunakan dengan takaran yang sudah ditentukan. Sehingga setiap produk memiliki citarasa yang sama. Chef Rano, seorang guru memasak dan Chef Irawan dari Resto Bambu Pandaan pernah memberikan testimoni bahwa siomay miracle rasanya enak, tastenya bintang lima.

Elis juga memberikan layanan lebih berupa ongkos kirim flat sebesar Rp 5.000 untuk wilayah Surabaya. Karena itu dia merasa sedih saat mendengar kabar bahwa kurirnya jatuh dari kendaraan. Untuk meningkatkan kemampuan dan memperluas jaringan maka produsen makanan nan lezat  sering mengikuti pameran.

Antara lain di GrandCity, Bungkul, Ampel, Balai Pemuda, dan Universitas Ciputra. Dia juga bergabung dengan kelompok Usaha Kecil Menengah (UKM) Best Kreatif Surabaya yang dipimpin oleh Indra Wahyudi. Hal yang paling menyedihkan dialami Elis, saat dia dibully sesama penjual siomay karena dagangan orang tersebut tak laku.

Namun, kesedihan yang dialami Elis, terbayar lunas saat dia bisa membantu orang yang membutuhkan pekerjaan dengan menjadikannya sebagai resaler. “Resaler saya itu yang satu sedang terjebak hutang kartu kredit dan satu lagi seorang penderita lumpuh. Mereka semuanya bisa menjadikan resaler siomay sebagai jalan keluar masalah ekonomi,” kata Elis Dinda. (nanang)