Terkena Imbas Bom, Hunian Hotel di Banyuwangi Turun Drastis

52

Banyuwangi, (bisnissurabaya.com) – Tragedi bom di Surabaya, berdampak pada hunian hotel di Banyuwangi. Apalagi, bulan ramadhan. Hal ini dirasakan sejumlah pelaku usaha hotel di Banyuwangi. Meski begitu, sejumlah hotel memilih tetap buka, meski sepi. Ketua PHRI Banyuwangi, Zaenal Muttaqin mengatakan, turunnya tingkat hunian hotel nyaris terjadi saat awal memasuki bulan puasa. “Hal ini seperti sudah menjadi tradisi,” ungkapnya, kepada Bisnis Banyuwangi, pekan lalu.

Penurunan ini terasa sejak awal puasa, dimana tingkat hunian hotel menurun 15-20 persen.  Penurunan ini, kata dia, biasanya kembali normal saat 20 hari puasa atau mendekati lebaran. Namun, kata Zaenal, ramadhan tahun ini tingkat penurunan lebih parah. Hal ini akibat imbas tragedi bom Surabaya.

“Selain penurunan ekonomi global, imbas ledakan bom Surabaya terasa sekali,” ucapnya sambil menjelaskan akibat bom, penurunan tingkat kunjungan wisatawan dirasakan meluas. Dari pelaku usaha hotel, tempat kos sampai kawasan wisata di Jawa Timur/Jatim.  Pasca bom, banyak razia antiteroris digelar Satpol PP, maupun satuan pengamanan lain. Termasuk menyasar penghuni hotel. “Sehingga banyak orang takut,” ucapnya.

Selain mengecek identitas penghuni hotel, tak sedikit yang dibawa petugas. Sejauh ini pihaknya setuju dan mendukung adanya razia antiteroris maupun narkoba. Namun, faktanya selalu mengarah pada pasangan yang bukan muhrim.

Ia berharap, sebaiknya penghuni hotel yang tak mengarah kriminal tak ditangkap. “Kasus bukan muhrim ini kan di luar SOP kami,” ucapnya. Melihat kondisi seperti ini, diprediksi kembalinya tingkat hunian hotel pada situasi normal diperkirakan akan lebih lama.  Saat ini, belum ada strategi khusus terhadap kondisi ini.

“Kami hanya bisa wait and see,” ucapnya. Sementara itu, upaya yang bisa dilakukan hanya meningkatkan kualitas servis tamu. Pihaknya juga akan segera menggelar pertemuan pengurus untuk membahas masalah-masalah internal PHRI dan kebijakan-kebijakan Pemda yang belakangan banyak nyeleneh. Salah satunya rencana pemasangan 1.000 unit tax monitor. “Saya rasa ini perlu dievaluasi bersama,” pungkasnya. (tin)