Dari Lembah Hitam ke Bakso Hitam

36

(bisnissurabaya.com) – Usaha bakso hitam membawa berkah. Setiap orang berhak menentukan masa depannya yang lebih baik, walaupun pernah memiliki catatan perjalanan kehidupan yang kelam sekalipun. Itulah yang  dialami Sigit Prihanto, Owner Bakso Hitam Chok Judes.

Sebelum membuka usaha bakso, pria kelahiran Salatiga 1978 ini pernah tersesat di dunia peredaran gelap narkoba. “Saya pernah melarikan diri ke Palu dan Kuching Malaysia untuk keluar dari sindikat jaringan narkoba. Selama 12 tahun saya menetap disana sebelum memutuskan kembali ke tanah air dan berjualan bakso,” kata Sigit, yang juga suami dari Iin Nuryeni, kepada Bisnis Surabaya, pekan lalu.

Pada 2013 sigit meluncurkan produk Bakso Chok Judes yang merupakan kepanjangan dari Choklat Keju Pedes. Sebelum produk ini diluncurkan, dia bekerja keras melakukan percobaan untuk menentukan bahan yang digunakan sebagai penghitam baksonya. Sebelum menggunakan arang klobot jagung, dia menggunakan cumi-cumi dan arang Jepang.

“Walikota Surabaya Ibu Risma yang meminta saya memproduksi bakso hitam,” ujar Sigit. Bakso Chok Judes, di pasarkan secara online di jejaring sosial seperti facebook, instagram dan whatssap. Selain itu, juga di pasarkan offline di ouletnya yang terletak di kawasan Pondok Benowo Indah.

Dari harga yang dibanderol Rp 10.000 per porsi, pria yang belum lama menikah ini mampu mengantongi omzet rata-rata Rp10 juta per bulan. Berbagai event pameran baik di dalam maupun di luar kota dikuti Sigit. Mulai roadshow di kecamatan, Grand City, sampai ke Jakarta.

Untuk mengatasi pemesanan ke luar kota yang seringkali mengalami kendala, pria paruh baya ini berencana membuat produk kering sejenis cuanki, sehingga mudah dikemas. Sigit, juga rajin mengikuti pelatihan Pejuang Muda( PM ) yang diadakan setiap Sabtu di Kaza City.

Karena aktif berkecimpung dikegiatan ini dia ditunjuk teman-temannya sebagai kepala suku yang menjadi koordinator. “Saya bisa bertahan di dunia bisnis karena dukungan teman teman di PM,“ ujar Sigit. (nanang)