Menikmati Lezatnya Sate Klathak Pak Bari

116

Yogyakarta, (bisnissurabaya.com) – Sejauh ini Yogyakarta dikenal sebagai kota yang istimewa. Bagaimana tidak, saat berkunjung di kota ini selalu menghadirkan kenangan tersendiri. Tak heran jika banyak wisatawan ingin kembali lagi ke kota yang terkenal akan kuliner gudegnya ini.

Bertandang ke suatu daerah tanpa mencicipi kuliner setempat rasanya kurang lengkap. Tapi, apakah anda tahu bahwa selain terkenal gudeg dan angkringannya, Yogyakarta juga memiliki kuliner lain yang wajib dicicipi saat berada disini. Yaaaa……, sate Klathak Pak Bari.

Apa itu sate klathak? Sate klathak merupakan sate kambing seperti pada umumnya yang dibakar diatas bara. Namun, yang membedakan adalah tusuk satenya. Alih-alih menggunakan bambu sebagai tusuknya. Potongan daging ditusuk-tusuk dengan jeruji besi.

Penggunaan tusuk besi ini dipercaya dapat membuat daging kambing matang merata, karena sifat besi yang menghantarkan panas dengan baik. Ciri khas lain dari sate klathak ini terdapat pada bumbunya yang hanya menggunakan garam saja. Sebelum dibakar, sate terlebih dahulu dilumuri dengan garam kemudian disajikan dengan kuah gulai, bukan bumbu kacang seperti pada umumnya.

Sate Klathak Pak Bari sendiri dibanderol dengan harga Rp 20.000 per porsi, dimana satu porsi ini berisi dua tusuk sate dan sudah termasuk kuah gulainya. Selain sate klathak di warung Pak Bari ini, juga menawarkan menu olahan kambing lainnya. Seperti tongseng, tengkleng dan gulai. Sate Klathak Pak Bari, yang berada di Pasar Jejeran Wonokromo, Pleret, Bantul Yogyakarta ini buka setiap hari mulai pukul 18.30 WIB.

Turun-temurun

Usaha kuliner sate klathak Pak Bari, ini ternyata merupakan usaha turun-temurun dari keluarganya. Pak Bari, sendiri merupakan generasi ketiga setelah bapaknya.

“Yang pertama jualan itu simbah saya, namanya Mbah Ambyah. Setelah itu diteruskan bapak saya, pak Wakidi. Nah, baru sekitar 1992 saya melanjutkan,” terang Pak Sabari saat ditemui Bisnis Surabaya, Kamis (15/3).

Ditanya soal pemilihan lokasi jualan, pihaknya menuturkan bahwa pasar Jejeran dahulunya memang sudah menjadi tempat berjualan simbah Ambyah. Sepeninggal Mbah Ambyah, Pak Wakidi, meneruskan usahanya dengan menyewa ruko sebagai tempat untuk jualan. Setelah berkali-kali pindah, akhirnya kembali ke lokasi yang kini telah dibangun pasar itu.

“Dulu awalnya simbah saya jualan di sini, terus sempat pindah-pindah. Dan balik lagi kesini,’’ ujar Pak Bari disela-sela membakar sate.

Nge-hits setelah AADC2

Masih ingat disalah satu adegan film Ada Apa Dengan Cinta 2 (AADC), dimana rangga mengajak Cinta untuk makan bersama di warung sate? Nah, warung tersebut merupakan warung sate Pak Bari. Hal ini dibenarkan sendiri oleh Pak Bari. Warung satenya makin laris manis diburu wisatawan gara-gara muncul di film garapan sutradara Riri Reza itu.

“Biasanya 50 kilogram sate baru habis dini hari mbak. Semenjak muncul di film itu kini bisa menghabiskan daging 100 kilogram. Itupun jam sembilan malam kadang sudah habis,” tandasnya. (hany)