Owner Hotel Djagalan Raya, dr Moenik Badrijah M Kes : Jaga Silahturahmi sebagai Wujud Jihad Fisabililah

231

(bisnissurabaya.com) – Hotel kelas melati namun banyak inovasi. Hal itu diusung oleh Hotel Djagalan Raya, sebuah hotel berkonsep  keluarga yang terletak di kawasan kota tua Surabaya. Hotel ini merupakan satu-satunya hotel budget yang terletak di pusat bisnis dan perdagangan.

Memiliki 24 kamar type standard , superior dan deluxe, serta dilengkapi fasilitas restauran, musholla, wifi area, rent car, klinik dan tour & travel. Sebagai anak tertua  dari Abdul Muntalib,  dr Moenik Badrijah M Kes yang akrab dipanggil dr Moenik diberi tanggung jawab untuk  mengelola usaha warisan  keluarga tersebut.

“Hotel Djagalan Raya didirikan kakek saya yang asli Ampel  pada 5 Maret 1958. Awalnya bernama Penginapan Abdul Muntalib,” kata dr Moenik kepada Bisnis Surabaya. Dokter Moenik dan keempat saudaranya dibesarkan dalam tradisi keluarga pengusaha. Namun, mereka tak hanya  diajarkan cara berdagang saja. Mereka juga diajarkan pada nilai – nilai sejarah, pentingnya menjaga silahturahmi dan kerja keras sebagai perwujudan  jihad fisabililah.

Walaupun lahir dalam keluarga pengusaha, Moenik lebih memilih menjadi dokter. Hal ini dilakukan setelah dia melihat dr Hadi di hotelnya. Baginya, profesi seorang dokter begitu mulia dan membanggakan. Kemudian setelah lulus kuliah dr Moenik mengelola klinik kesehatan Elman  miliknya yang juga berada di Jalan Jagalan.

Berbekal pengetahuan manajemen yang didapat saat kuliah, dr Moenik membuat terobosan baru dalam mengelola hotel yang menjadi tanggung jawanya, tidak hanya melakukan perbaikan fasilitas fisik semata tetapi juga melakukan perbaikan layanan dan membuat program baru dengan melakukan sinergi berbagai pihak.

“Saya sangat gembira saat bisa melihat penampilan tari Remo Surabaya, dan   saya merasa nyaman bagai  dirumah sendiri,” kata Lulu Adrian, tamu hotel dari Solo. Baru – baru ini Hotel Djagalan Raya juga melaunching program wisata  napak tilas sejarah pendiri bangsa yang bertujuan mengenalkan sejarah bangsa dan menunjang kurikulum pendidikan yaitu mengunjungi situs sejarah di sekitar tempat tersebut dengan menaiki odong–odong atau sepur kelinci.

Tempat yang dikunjungi antara lain, sekolah tempat Raden  Soekemi ayahanda Bung Karno mengajar di Alon – Alon Contong, rumah lahir Bung Karno di Pandean, rumah kost milik HOS Tjokroaminoto di Peneleh, masjid peninggalan Sunan Ampel di Peneleh, Rumah dr Roelan Abdoel Gani di Plampitan , dan lain – lain.

“Banyak yang tidak tahu, bahwa Bung Karno adalah arek Suroboyo yang lahir di kampung Pandean dan pernah kos di Peneleh, melalui program ini saya ingin menyambung mata rantai sejarah yang sengaja dihilangkan sejak jaman penjajahan,” jelas dr Moenik.

Ditangan dr Moenik, Hotel Djagalan Raya tidak hanya menjadi mesin uang semata. Tetapi juga menjadi wadah kegiatan sosial. Banyak kegiatan sosial yang sudah dilakukan seperti mengkoordinir pengumpulan hijab untuk muslimah di Maluku, menggelar acara pelatihan parenting hypnoterapi, dan  mengadakan kegiatan pameran bersama usaha kecil menengah. (nanang)