Surabaya,(bisnissurabaya.com) – Support Indonesia terhadap Palestina tak pernah berhenti. Terakhir pemerintah Indonesia menyatakan dukungan kepada Palestina dengan menolak pengakuan Amerika Serikat/AS terhadap perpindahan ibu kota Israel ke Yerusalem. Tak hanya dalam diplomasi, pemerintah Indonesia terus mendukung Palestina meraih kemerdekaan penuh serta menyalurkan bantuan.

Ulama kenamaan dari Palestina, Syeikh Nashif Nashir, mengungkapkan, sampai saat ini Palestina masih menderita atas penjajahan dan etnis cleansing oleh Israel. Setahap demi setahap penduduk Palestina diusir dari tanah airnya sendiri. Tercatat hampir 85 persen tanah di Palestina sudah diduduki bangsa Yahudi.

“Kita ingin Palestina merdeka dari penjajahan, pertarungan antara Israel dan Palestina sepanjang umur manusia, dan Israel tidak akan pernah mempunyai empati,” terang Syeikh Nashif Nashir saat menghadiri acara Freedom for Palestine Concert yang digagas Komite Nasional Untuk Rakyat Palestina (KNRP) Jawa Timur (Jatim) di Hotel Bumi Surabaya, Sabtu (27/1).

Atas keputusan Donal Trump menyetujui perpindahan ibukota ke Yerusalem, dinilai Syeikh Nashir merupakan sebuah kejahatan kemanusiaan. Strategi Trump mengalihkan ibukota ke Al Quds mutlak sebagai strategi yang salah, dan janji Allah pasti. Bahwa pertempuran ini telah tercatat dalam kitab suci Al Quran.

“Trump telah melakukan kejahatan kemanusiaan dan ini adalah awal pertempuran yang akan dilakukan ke depan. Pertarungan kemanusiaan, pertarungan yang telah tercatat dalam Al Quran, pertarungan lama yang tak akan pernah berhenti,” ungkapnya. Jika dilihat dari sisi kemanusiaan, politik, maupun ekonomi, semua melihat bahwa ini adalah akhir kekuasaan Israel di muka bumi. Umat Islam akan terus bersatu melakukan perlawanan demi mengembalikan Masjid Al Aqsha dan Palestina.

Sejatinya, Masjid Al Aqsha bukan milik Palestina dan Arab saja, tapi milik semua umat Islam di dunia. Masjid Al Aqsha adalah pusat spiritual dan sejarah sekaligus masa depan bagi umat Islam. Masjid Al Aqsa tidak pernah menjadi milik orang – orang Yahudi. Beliau yakin bahwa Israel akan hengkang dari bumi Palestina dan umat Islam Palestina bisa masuk dan melaksanakan shalat di Masjid Al Aqsha serta menguasainya kembali.

“Dan pertarungan yang terjadi saat ini sangat genting, seluruh buku sejarah mencatat menginginkan Al Aqsha. Mulai Babylonia, Yunani, Mesir, Roma, sampai sejarah Tar Tar, juga Inggris,” sambungnya. Syeikh Nashir, membandingkan ketika Belanda menjajah Indonesia rakyat Indonesia tetap ada disini. Begitupun saat penjajahan Jepang.

“Yang terjadi adalah sebaliknya di Palestina, Yahudi mengusir kami,” tuturnya. Sebuah ironi, melihat kondisi Palestina, saat ini Israel menginginkan Palestina hidup segan mati tak mau. Tidak mati dan juga tidak hidup, seperti orang yang sedang mengerang di rumah sakit. Pemangkasan bantuan dari AS tidak membuat Palestina menyerah mendapatkan haknya sebagai negara merdeka. Bagi Syeikh Nashir, status bantuan hanya menyelamatkan sementara saja. “Apakah ada di negara lain seperti di Gaza yang saat ini sudah diblokade selama lebih dari 11 tahun ? Seluruh Non Government Organisation (NGO) menginginkan Yahudi masih berada di Palestina. Setiap US$1 yang disampaikan AS kepada Palestina sama dengan US$1000 yang sampai pada Israel,” tegasnya.

Sejauh ini, berbagai uluran tangan dari Indonesia melalui berbagai pihak serta KNRP yang diberikan telah sampai langsung kepada rakyat Palestina di Gaza. KNRP sendiri telah beberapa kali masuk ke Jalur Gaza dan bantuan sudah sampai ke tepi barat Al Quds, Turki, Suriah. “KNRP telah membangun rumah sakit, yayasan, klinik, serta kami telah membagikan sembako untuk rakyat Palestina dan momen Idul Qurban. Terimakasih atas bantuan bangsa Indonesia selama ini. Dalam keadaan yang sangat terbatas terus membantu, mereka (rakyat Palestina) melihat komitmen rakyat Indonesia untuk membantu kami,” kata Syeikh Nashif Nashir. (lely)