Uang Menggumpal di Minuman Herbal

324

Surabaya, (bisnissurabaya.com) – Keberadaan obat kimia dan herbal adalah hal yang beda. Kondisi ini menimbulkan stigma atau pandangan masyarakat bahwa keduanya berbeda. Bahkan bertentangan satu dengan yang lain. Kondisi ini tak berlaku bagi Dra Hj Kumaiyah, seorang pensiunan guru kimia yang malang melintang mengajar mata pelajaran kimia diberbagai sekolah kejuruan di Surabaya. Mulai SMKN 2, SMKN 3, SMKN 5, dan SMK Pelayaran Bhakti Samudra.

“Karena dianggap senior, saya beberapa kali dipercaya menjadi Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) kimia,’’ kata Hj Kumaiyah, kepada Bisnis Surabaya, pekan lalu. Hj Kumaiyah yang ahli kimia ini justru membuat berbagai produk  minuman dan makanan herbal sebagai usahanya.

Mulai dari manisan belimbing wuluh, manisan murbai hingga aneka minuman dan sirup seperti  rosella ungu, rosella merah, belimbing wuluh, dan murbai. Awalnya Hj Kumaiyah menderita sakit lutut. Walau tiap hari dia minum obat dokter sebanyak 145 butir sekali minum tapi dia tak kunjung sembuh.

Sehingga dia tak bisa sholat. Kemudian dia mencoba minum sari belimbing wuluh miliknya dan ternyata sembuh total. “Alhamdulilah sejak saat itu lutut saya tidak sakit dan saya bisa melaksanakan sholat lagi,’’ ujar Kumaiyah. Sejak saat itu, Hj Kumaiyah, memproduksi massal minuman buatanya untuk dijual.

Dia merasa lebih yakin lagi ketika tahu bahwa belimbing wuluh memiliki banyak khasiat untuk pengobatan penyakit. Seperti menurunkan tekanan darah tinggi, meningkatkan daya tahan tubuh, menyembuhkan batuk, melancarkan dahak, mencegah kanker, melancarkan pencernaan, melancarkan air seni, menghilangkan rasa sakit, dan anti radang.

“Suatu ketika ada murid saya sakit perut, dan saya kasih minum rosella ungu kemudian sembuh,” ujar Dra Hj Kumaiyah bangga. Produk buatan Hj Kumaiyah di pasarkan dengan cara dititipkan secara konsinyasi diberbagai tempat di Surabaya. Antara lain di Siola, Pemerintah Kota, Toko Lapis Kukus, Restauran Gudeg Tugiyo, Masjid Ceng Ho, SMKN 2, Toko Bakpau Chikyen, Hotel Djagalan Raya, Depot Mie Djokja, Kedai Putih, dan Angsle Roni Surabaya Plaza.

Pada 2012 ada seorang perempuan pegawai Dinas Perindustrian Dan Perdagangan (Disperindag) Kota Surabaya  yang sedang naksir salah seorang putranya melakukan pendekatan kepada dirinya. Dia diajak  ke P3E Kedungdoro sambil membawa produk makanan dan minuman buatannya untuk diurus izin Produk Industri Rumah Tangga (PIRT) nya.

Hj Kumaiyah kemudian memutuskan untuk bergabung dengan program Pahlawan Ekonomi (PE) yang digagas oleh Pemerintah Kota Surabaya. Melalui program PE ini dia belajar cara mengemas yang professional. Sehingga bisa menghasilkan produk dengan kemasan eksklusif.

“Walau harganya dua kali lipat dari kemasan biasa, yaitu Rp 7.000 dan Rp 15.000 untuk kemasan PE, namun produksi dengan kemasan PE bisa laku keras terutama di hotel dan restaurant,” jelas Kumaiyah. Dukungan dari Walikota Tri Rismaharini, sangat dirasakan Kumaiyah.

Tolok ukurnya adalah produk sirup miliknya bukan hanya dikenal tapi sudah dihafal  walikota. Suatu ketika ada pelaku UKM lain membawa produk miliknya di sebuah pameran kemudian ditegur walikota. Produk minuman dan makanan herbal tak hanya dikenal di Surabaya tapi sudah ke mancanegara.

Pernah ada tourist dari Jepang dan Amerika Serikat khusus datang ke Surabaya hanya untuk membeli produk milik Kumaiyah untuk dibawa pulang ke negerinya. Melalui program PE yang diikutinya, Kumaiyah tak hanya terpilih sebagai 10 besar Tata Rupa angkatan ke-3, tetapi juga banyak menerima pesanan dari berbagai tempat.

Namun dia pernah juga menolak permintaan Indomart untuk menyuplai produknya di 100 gerai jaringan minimarket tersebut. Hal ini disebabkan faktor ketersediaan bahan di pasaran dan kemampuan maksimal dalam produksi. “Masih banyak orang beranggapan bahwa semua produk belimbing wuluh selalu rasanya masam. Padahal tak semuanya begitu,’’ tutur Kumaiyah. (nanang)