Tuban,(bisnissurabaya.com) – Persaingan bisnis semen secara nasional semakin ketat. Selain itu jumlah produksi dibanding kebutuhan masih lebih banyak produksi, sehingga menyebabkan harga semen turun. Belum lagi kebutuhan produksi dan operasional yang terus meningkat. Kondisi ini semakin memperparah bisnis semen, sehingga sejumlah perusahaan mengalami penurunan labanya.

Hal itu ditegaskan Direktur Utama (Dirut) PT Semen Indonesia (Persero) Tbk Hendi Priyo Santoso di hadapan para direksi dan karyawan PT Semen Indonesia grup. Yaitu  saat  tasyakuran dan doa bersama dalam peringatan ulang tahun ke-5 PT Semen Indonesia (Persero) Tbk di Tuban.

Tahun ini, diperkirakan permintaan semen atau penyerapan pasar secara nasional naik 5 persen menjadi 70 juta ton, dibanding sebelumnya. Namun jumlah produksi semen nasional di atas kebutuhan atau 106 juta ton. Sehingga terjadi kelebihan produksi. Kondisi tersebut, menurut dia, akan terus berlangsung sampai 2025 nanti. ‘’Hal itu menyebabkan harga jual semen turun,’’ tambahnya.

Karena turunnya harga semen, hal itu sangat berpengaruh pada pendapatan. Semen Indonesia juga terkena imbasnya, laba terus turun selama tiga tahun terakhir. Misalnya pada 2015 bisa laba Rp 5 triliun. Jumlah itu turun pada 2016 yang hanya Rp 4,5 trilun.

Dan tahun 2017 semakin sedikit karena hanya mencapai Rp 1,8 triliun. ‘’Evaluasi dan introspeksi harus terus dilakukan. Hal yang sukses di masa lalu belum tentu bisa dilakukan di masa depan. Harus mencari terobosan baru dan meningkatkan kiberja,’’ pintanya.

Segala  upaya harus terus dilakukan agar kinerja yang baik terus bisa dipertahankan dan ditingkatkan. Saat ini, Semen Indonesia masih menguasai 42,2 persen lebih pasar semen nasional. Namun, dengan hadirnya kompetitor yang semakin banyak, maka dibutuhkan strategi dan kerja keras untuk bisa menghadapi persaingan yang semakin terbuka itu.

Persatuan dan kesatuan sesama perusahaan di bawah Semen Indonesia harus terus diperkuat agar menjadi kekuatan besar yang sanggup memenangi persaingan. ‘’Suatu keprihatinan dengan kondisi saat ini. Namun dengan kerja keras, terus bersatu dan membangun kekuatan bersama, semua rintangan bisa dilewati,’’ tandasnya.

Persaingan bisnis semen yang semakin ketat, dan harga jual yang turun membuat laba PT Semen Indonesia pada 2017 turun. Sampai akhir tahun, perusahaan produsen semen itu hanya mencatat laba Rp 1,8 triliun. Jumlah tersebut jauh di bawah capaian 2016 yang sampai Rp 4,5 trilun. Karena itu, tahun 2018 ini, PT Semen Indonesia menargetkan laba menjadi Rp 3,03 trilun atau naik 50 persen dibanding tahun 2017.

Ke depan capaian dan kinerja perusahaan harus lebih baik. Semua harus bersatu dan membangun kekuatan bersama untuk menghadapi tantangan serta persaingan yang semakin berat di bisnis semen ke depan. ‘’Pada 2017 lalu saja, kompetitor sudah tiga kali lipat jumlahnya. Dibutuhkan kerja keras dan fokus untuk mencapai kinerja yang lebih baik,’’ ujar  Hendi. (oso)