Kisah Mr Kim Merubah Nasib, Pernah Jadi Scued Sampai Residence Manager Hotel

205

(bisnissurabaya.com) – Perjalanan hidup manusia siapa sangka. Tak semua orang mempunyai nasib yang baik, dan tidak semua individu mempunyai nasib buruk. Adakalanya manusia mengalami perubahan nasib seiring dengan usaha keras yang dilakukannya.

Muhammad Mustakim atau Mustakim Patih yang akrab dipanggil Mr Kim, lahir dan besar di Bangil. Dia menyelesaikan belajarnya di SMK Achmad Yani Bangil. Setelah lulus sekolah, Mustakim langsung bekerja di PLN Pasuruan. Tak lama pindah kerja di Telkom Pasuruan kemudian pindah lagi di sebuah perusahaan laundry yang pelanggannya kebanyakan merupakan perusahan penghasil pakaian merk ternama seperti Laruzo, Osella, dan Walrus.

Tak puas bekerja dibidang laundry, Mustakim melamar kerja di Graha Residence. Disini dia mengawali karirnya sebagai Clening Service, kemudian di tempatkan di Koperasi Karyawan, terus dipindah di Departemen Food and Beverage sebagai Scued hingga karirnya meningkat terus  dari Helper, Cook I, Cook II hingga Cheff.

“Saya benar-benar menjalani karir dari bawah. Mulai dari Scued yang tugasnya mencuci peralatan masak dengan menggunakan air panas hingga pekerjaan memasak semuanya sudah pernah saya jalani,” kata Residence Manager Hotel Djagalan, Mustakim, kepada Bisnis Surabaya, pekan lalu.

Saat Intiland Group yang merupakan induk perusahaan Graha Residence mengadakan seleksi penyaringan untuk mengisi formasi koordinator food and beverage, Mustakim, menempati urutan nomor 3 dari 11 orang yang lolos penyaringan. Setelah beberapa bulan menempati posisi HRD, Mustakim, pun diangkat sebagai koordinator food and beverage.

Sebagai koordinator food and beverage, Mustakim, tak hanya sukses menciptakan varian menu baru seperti rawon dan bebek kendil, tetapi dia mampu menciptakan gebrakan pecel Rp 1.000 yang berimbas terlampauinya pendapatan penjualan makanan dan minuman  yang telah ditargetkan oleh  perusahaan yaitu 5 persen.

“Prestasi ini membuat gaji saya dinaikkan sampai 4 kali dalam setahun,“ kata  Mustakim bangga. Gaji yang besar dan fasilitas yang cukup rupanya tak membuat perasaan Mustakim, menjadi nyaman. Pertengahan 2013 Mustakim, malah punya keinginan untuk mundur dari perusahaan. Hal ini diperkuat dengan adanya kebijakan perusahaan untuk rasionalisasi terhadap karyawannya.

Mustakim memilih keluar untuk menggantikan temannya yang seharusnya terkena rasionalisasi. “Ibu teman saya mendatangi saya, mohon agar anaknya tak sampai terkena rasionalisasi,“ jelas Mustakim, dengan menitikkan air mata. Selepas dari Graha Residence banyak tawaran dari hotel kepada Mustakim. Seperti Meritus Prime Royal Hotel, Safir Hotel Yogyakarta, dan juga salah satu Hotel di Bali. Tapi semuanya ditolak Mustakim. Rupanya keinginan Mustakim untuk berwirausaha sudah bulat dan tak bisa ditawar- tawar lagi.

Untuk mewujudkan keinginan itu, Mustakim, membuka warung chinese food yang bernama Djoejogane Pak Rete di Simorejo Sari Gang B. Warung ini sangat laris sekali, walaupun resmi buka mulai pukul 16.30 WIB, tetapi pukul 16.00 sudah banyak yang antri.

Setiap weekend Warung Djojoegane Pak Rete mengusung konsep suasana dan menu hotel. Seperti nasi goreng, nasi imut, aneka mie, aneka telur dan aneka jamur. Alhasil paling lama pukul 20.00 WIB sudah tutup karena semua menu sudah habis terjual.

Tak puas hanya membuka Warung chinese food, Mustakim mengtake over Lorong Café di daerah Dukuh Kupang dan membuka warung mobil untuk berjualan nasi yang mangkal di Ketintang. Pengelolaan warung mobil sepenuhnya dikelola anak asuhnya  dari panti asuhan.

“Anak-anak dari panti ssuhan itu saya bawa ke Surabaya untuk dilatih dan diajari berjualan di warung mobil,’’ terang Mr Kim. Untuk meningkatkan pemasaran dan membuka jaringan diantara para usaha kecil menengah (UKM), Mustakim, bersama dengan Moestar Affandi, dan Banu Putra membentuk wadah UKM yang bernama Group Wirausaha Mandiri (GW Man). GW Man sudah banyak melakukan kegiatan pembinaan UKM. Baik seminar, bazaar, maupun pelatihan.

Saat ini Mustakim, dipercaya managemen Hotel Djagalan Surabaya untuk mengelola hotel keluarga yang memiliki 24 kamar ini. Berbagai terobosan dan gebrakan dilakukan Mustakim dan managemen untuk meningkatkan okupansi hotel.

Mulai memperbaiki service, menata banquet hingga mengadakan kegiatan kopi darat dengan UKM, mengadakan event tahun baru, dan napak tilas jejak pahlawan. Dan Hotel Djagalan yang pernah kondang pada era 1960-an, kini mulai menggeliat dan dikenal kembali oleh masyarakat.

Disela-sela kesibukannya, dia masih menyempatkan diri untuk melatih masyarakat membuat aneka saus dengan varian saus ala thai, saus lada hitam, saus salad, dan aneka pentol dengan varian pentol bledeg, pentol jamur, pentol jamur mozzarella, dan pentol durian.

“Saya hanya ingin berbuat yang terbaik untuk masyarakat, apapun yang terbaik untuk masyarakat pasti saya lakukan,’’ ujarnya. (nanang)