Faktor Ekonomi Penyebab Tertinggi Perceraian

189

(bisnissurabaya.com) – Syarat-syarat  perceraian bisa diajukan ke pengadilan manakala sudah  tidak terjadi kesesuaian  lagi dalam rumah tangga itu. Artinya suami istri itu tidak akan dapat hidup rukun sebagai suami istri. Padahal tujuan melangsungkan perkawinan adalah membentuk keluarga yang harmonis, mawaddah wa rohmah.

Demikian disampaikan  Advokad Senior, Dr H Sunarno Edy Wibowo SH, MHum, saat dialog “Hukum Dimata Bowo” di Surabaya TV, Jumat (12/1) pukul 20.00 WIB. Namun demikian  lanjut Cak Bowo panggilan akrab advokat ini  kalau bisa perpisahan itu tidak sampai terjadi. Mengingat dampaknya luar biasa baik terhadap anak kandung famili maupun handai tolan.

Menurut pria yang telah menggeluti dunia hukum puluhan tahun ini, memang terkadang badai perceraian itu tdak bisa dihindari. Ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan upaya perpisahan tersebut.

 “Dari pengamatan saya faktor ekonomi merupakan penyebab timbulnya perceraian. Faktor ini menduduki peringkat teratas sebagai penyebab,” jelas Cak Bowo. Kemudian disusul faktor hubungan tidak harmonis, perselingkuhan, hadirnya pihak ketiga dan lain-lain.

Fakta tingginya angka perceraian itu diamatinya  terjadi di Surabaya, Gresik dan Sidoarjo juga Lamongan.    Bahkan di Gresik ditengarai angka pengajuan tertinggi dijaukan oleh mereka yang berprofesi sebagai guru PNS (Pegawai Negeri Sipil).

Lebih lanjut cak Bowo menjelaskan selain faktor ekonomi dan perselingkuhan diatas terdapat faktor lain yang juga turut memicu terjadi tindakan halal tapi dibenci oleh Tuhan ini. Yaitu faktor kematangan pribadi pasangan suami istri.

“Dalam Undang-undang No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan disebutkan  di  salah pasal  bahwa usia yang diperbolehkan  menikah, untuk laki-laki minimal 25 tahun dan perempuan 19 tahun,” jelas Arek Suroboyo asli ini. Namun dalam kenyataannya tak jarang yang menikah pada usia dibawah yang dipersyaratkan dalam UU Perkawinan tersebut. Sehingga mereka belum matang untuk mengarungi bahtera rumah tangga.

Kemudian Cak Bowo kembali memaparkan syarat-syarat perceraian, bila memang biduk rumah tangga itu tidak dapat dilanjutkan.

Dalam Undang-Undang No.1 Tahun 1974, disebutkan dalam Pasal 38 Perkawinan dapat Putus karena kematian, perceraian dan atas keputusan Pengadilan.

Kemudian ditambahkan pada Pasal 39 Perceraian hanya dapat dilakukan didepan Sidang Pengadilan setelah pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak. Dan untuk melakukan perceraian harus ada cukup alasan, bahwa antara suami isteri itu tidak akan dapat hidup rukun sebagai suami istri.Tatacara perceraian didepan sidang Pengadilan diatur dalam peraturan perundang-undangan tersendiri.

Kemudian Pasal 39 ayat 2 disebutkan  Alasan-alasan yang dapat dijadikan dasar untuk perceraian adalah salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabok, pemadat, penjudi dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan. Salah satu pihak meninggalkan yang lain selama 2 tahun berturt-turut tanpa izin pihak yang lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain diluar kemauannya, Salah satu Pihak mendapat hukuman penjara 5 tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung. (sam)