(bisnissurabaya.com) – Usaha ternak sapi perah di perkotaan terbilang langka. Sebab, hal itu sangat lazim disaksikan di pedesaan. Menjadi luar biasa ada usaha peternakan sapi di tengah pemukiman padat perkotaan. Seperti di Wonocolo usaha itu milik keluarga Yusuf.

Usaha ternak sapi milik keluarga Yusuf ini dirintis sejak 1970 kini memiliki sekitar 50 ekor sapi yang didatangkan dari berbagai tempat di Jawa Timur (Jatim). Sapi di tempat H Yusuf, tidak hanya diberi makan rumput tetapi juga ampas tahu dan dedak.

Walikota Surabaya Tri Rismaharini sangat peduli dengan keberadaan peternakan sapi perah di Surabaya, dan berpesan agar peternak bisa menjaga produktifitas sapi betina. Kekhawatiran Risma, bukan tanpa alasan. Karena peternakan sapi perah di Surabaya hanya tinggal beberapa. Seperti di Wonocolo dan Benowo. Peternakan sapi perah di Jemursari kini sudah tutup dan berubah jadi ruko.

Tingkat kebutuhan susu masyarakat di Surabaya terbilang tinggi. Untuk kuota pedagang di Jemursari mencapai 400 liter per hari. Hal ini disebabkan karena  susu bukan hanya digunakan untuk kebutuhan kosumsi. Seperti untuk bahan minuman STMJ. Tetapi juga untuk kebutuhan perawatan kecantikan di salon dan spa.

Ribuan liter susu tiap hari masuk ke Surabaya dari daerah Pujon Malang, Batu, dan Sidoarjo. Sementara Surabaya sendiri hanya mampu mensuplai tidak lebih dari 10 persen. Susu dari luar Surabaya bisa diterima dengan harga antara Rp 8.000 sampai Rp 9.000. Sementara di Batu susu hanya dihargai pabrik sekitar Rp 4.000.

“Peternakan kami mensuplai susu di STMJ Bu Nunuk dan sebagian besar pengecer susu yang ada di Surabaya,’’ kata Saifullah, putra H Yusuf, pengelola usaha ternak sapi. Syaifullah, bersama Yana, istrinya mengembangkan berbagai inovasi untuk memajukan usaha ternak sapi milik keluarga yang kini dikelolanya.

Susu sapi yang biasanya hanya dijual secara konvensional kini dikembangkan menjadi produk minuman susu kemasan dalam botol yang memiliki berbagai varian rasa. Produk susu kemasan yang diberi nama ‘Susu Segar Luar Dalam’ tersebut memiliki varian rasa  original, coklat, strawberry, anggur, buble gum, coffee mocca, dan blueberry.

Produk ini cepat diterima di pasaran. Utamanya anak-anak, karena rasanya yang enak juga menyegarkan. “Susu ini rasanya benar benar enak dan menyegarkan, anak-anak saya suka sekali terutama rasa durian dan buble gum” ungkap Moestar Affandi seorang pelanggan yang ditemani Sri Wahyuni istrinya di bilangan Kali Kepiting Jaya.

Harga yang dipatokpun terbilang sangat murah, untuk kemasan 250. mililiter hanya Rp 8.000,- sampai Rp 10.000,-perbotol. Dengan sistim pemasaran online dan offline yang ditipkan disekolah- sekolah, omzet penjualan produk susu milik keluarga Yusuf ini bisa mencapai 10.000.000,- perbulan

Susu kemasan yang dihasilkan peternakan keluarga Yusuf tanpa menggunakan bahan pengawet sama sekali, sehingga masa kedaluarsanya pun pendek sekali. Dalam kondisi suhu normal bisa bertahanhanya 6 jam saja, dan bisa bertahan sampai seminggu bila ditaruh didalam frezer.

Keluarga Yusuf merasa tidak takut produk susu miliknya bersaing dengan produk susu buatan pabrikan, karena sudah mempunyai pelanggan yang fanatik utamanya anak-anak. Selain itu menghindari pemakaian pengawet merupakan pertimbangan tersendiri bagi kebanyakan  pelanggan yang mulai menerapkan pola hidup sehat.

“Kedepan kami juga ingin melakukan pengembangan dengan membuat produk olahan keju dan yogurt “ Tambah Yana kepada Bisnis Surabaya. (nanang)