Mengais Rejeki lewat Tudung Saji

202

(bisnissurabaya.com) – Tudung saji bukan lagi peralatan dapur yang sering digunakan keluarga. Sehingga keberadaan tudung saji sulit ditemukan lagi. Pada mulanya Tiwi, hanya membantu kakaknya yang mempunyai usaha dibidang interior.

Dia memperhatikan banyak limbah dari pembuatan interior yang masih bisa digunakan untuk membuat barang kerajinan. Setelah melakukan banyak percobaan Tiwi, berhasil menciptakan sebuah produk tudung saji berbahan limbah interior.

Semula produk buatan Tiwi, hanya digunakan sebagai hadiah untuk setiap pembelian produk untuk kakaknya saja. Namun, seiring banyaknya permintaan terhadap barang hadiah tersebut, Tiwi mulai memproduksi masal tudung saji buatannya.

Selain menghasilkan produk tudung saji, Tiwi juga memproduksi tudung gallon, cover kulkas, cover tisu, cover keranjang aqua, cover toples kue, taplak meja, sarung bantal. Harga produk buatan buatan Tiwi, dibandrol antara Rp 125.000 sampai Rp 300.000 untuk tudung saji besar,  dan Rp 50.000 untuk cover tisu kecil.

Produk buatan Tiwi, diberi label Alya handmade. Selain dipasarkan secara online di instagram  juga dipasarkan secara offline di toko mereka di Jembatan Merah Plaza (JMP) dan Pasar Turi Baru. Omzet yang dihasilkan mencapai Rp 20 juta sampai Rp 30 juta per bulan

Tiwi, sengaja mengupgrade model dan bahan produk buatannya sesuai perkembangan zaman. Sehingga dia tidak kesulitan untuk membidik pangsa pasar menegah keatas serta orang – orang yang hobby menghias rumahnya.

“Saya sering mendapat order dari luar pulau untuk membuat satu set acsesesoris perabotan rumah,’’ kata Tiwi, ibu dari Khayyaroh Putri Ayuba dan Kayyisa Diya Ayuba. Salah satu kendala yang sering dialami Tiwi, adalah sering naiknya harga kawat yang menjadi bahan baku utama produknya. Hal ini menyebabkan dirinya merugi. Karena  sering terikat order dengan harga lama sebelum harga barang mengalami kenaikan. (nanang)