Surabaya,(bisnissurabaya.com) – Keberadaan pusat perbelanjaan modern jadi komponen utama perekonomian perdagangan disamping pasar tadisional. Sedikitnya, ada 42 mall berdiri di Surabaya. Antara lain BG Junction, City Of Tomorrow (Cito), Darmo Trade Center (DTC), East Coast Center Pakuwon City, Empire Palace, Galaxy Mall, Golden City Mall, Grand City, Hi Tech Mall, ITC Mega Grosir, Jembatan Merah Plaza (JMP), Kapas Krampung Plaza (Kaza), Maspion Square, Pakuwon Indah Super Mall, Pakuwon Trade Center, Pasar Atum Mall, Pasar Turi, Plaza Marina, Royal Plaza, Surabaya Town Square, Tunjungan Plaza serta lainnya.

Keberadaan mall di Surabaya diwadahi sebuah asosiasi yang bernama Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Jawa Timur (Jatim). Ketua APPBI Jawa Timur, Sutandi Purnomosidi, mengatakan, lembaga ini mempunyai visi memposisikan industri pusat perbelanjaan sebagai salah satu dari kekuatan inti dalam mengembangkan dan memperkuat pertumbuhan ekonomi.

Kemajuan Surabaya ternyata tidak hanya melahirkan mall sebagai kekuatan ekonomi disektor formal. Tetapi juga mendorong bangkitnya usaha kecil menengah (UKM) sebagai kekuatan ekonomi non formal. Hal ini ditandai dengan semakin maraknya UKM  baik yang berbasis produk makanan maupun non makanan.

Manajemen Maspion Square, Ghofar (kiri), Yudi Kristianto (tengah), Arifin (kanan). (Foto/nanang)

Ada banyak wadah UKM yang terbentuk di Surabaya seperti Gerakan Wirausaha Mandiri (GW Man), Sahabat Komunitas Usaha (SKU), Perhimpunan Komunitas Jawa Timur (PKJT), Excellent Preneur Indonesia(EPI), dan lain-lain.

Pemerintah Kota Surabaya mewadahi UKM dalam sebuah program pelatihan serta pembinaan yang bernama Pahlawan Ekonomi (PE) dan Pejuang Muda (PM). Setiap Sabtu dan Minggu PE dan PM mengadakan pelatihan di Kapas Krampung Plaza. Setiap bulan tertentu juga mengadakan roadshow di 31 kecamatan yang ada di Surabaya.

Sekilas keberadaan mall dan UKM sebagai pilar dan pelaku ekonomi seperti berjalan sendiri – sendiri. Namun, apabila diperhatikan secara teliti di Surabaya banyak  ditemukan mall yang sudah membangun sinergisitas dengan UKM melalui program kemitraan yang menempatkan pelaku UKM untuk berjualan di mall.

Maspion Square salah satu mall di Surabaya yang sudah menjalin sinergisitas dengan pelaku UKM, “Mall merupakan sarana layanan publik dibidang sosial ekonomi untuk semua strata. Karena itu, mall harus membuka diri untuk UKM supaya UKM bisa belajar dan berusaha sesuai standard mall perkotaan,’’ kata Direktur Maspion Square, Yudi Kristianto, kepada Bisnis Surabaya, pekan lalu.

Pada umumnya UKM yang ada masih jauh dari standard yang diterapkan oleh mall. Baik dari sisi higienis produk, pengemasan, tampilan both, maupun kualitas sumber daya manusia (SDM), termasuk cara mereka berpakaian. Membranding produk dan SDM merupakan upaya mall untuk menjadikan pelaku UKM naik kelas.

(foto/patrik)

Untuk penempatan UKM di Maspion Squre, pihak mall menggandeng event organizer (EO) untuk melakukan pembinaan tanpa menghilangkan unsur estetika. Tetapi juga tidak memberatkan pihak UKM. Seperti menyeragamkan both tempat mereka berjualan. Keberpihakan kepada UKM dibuktikan pihak Maspion Square dengan  menempatkan pedagang cilok yang biasanya mangkal di gerbang untuk difasilitasi berjualan di dalam mall.

Saat ini omzet pedagang cilok tersebut sudah mencapai Rp 5 juta dan berhasil membuka cabang lagi di mall lain. “Saya diperintah managemen untuk memeriksa secara teliti higienitas proses pembuatan cilok di rumahnya sebelum diputuskan dapat berjualan didalam mall,” tambah Manager Tenant dan Promosi Maspion Square, Ghofar.

Saat Maspion Square menyelenggarakan pameran UKM Kelautan yang  bekerjasama dengan Dinas Kelautan Jawa Timur (Jatim), Dahlan Iskan, menyampaikan pujian atas upaya yang sudah dilakukan tersebut. “Selain menggandeng UKM untuk berjualan. Kami juga sering menggandeng lembaga keagamaan Nahdalatul Ulama (NU) untuk mengaji di mall. Menpora Imam Nahrawi, menyampaikan penghargaan dan kekaguman  atas terobosan kami,“ jelas Yudi Kristanto.

“Kami juga memberikan bantuan uang sampah untuk RW yang berhimpitan dengan mall Maspion Square,“ tambah Arifin, yang akrab disebut RT Maspion Square.

Lain Maspion Square, lain pula Kapas Krampung Plaza/Kaza. Mall ini menunjukkan keberpihakannya kepada UKM dengan memfasilitasi program PE dan PM yang diselenggarakan Pemerintah Kota/Pemkot Surabaya dengan menyediakan tempat latihan setiap hari Sabtu dan Minggu.

“Selain memfasilitasi PE dan PM, kami juga akan membuat Rempah Nusantara Centre (RNC) untuk menampung UKM rempah se-Indonesia,” kata Manager Mall Kaza, Heru. Pembangunan hotel yang memiliki kapasitas 100 kamar dan gedung bioskop merupakan pengembangan fasilitas Mall Kaza ini akan dilengkapi dengan pojok UKM sebagai tempat pembelian oleh – oleh baik makanan maupun non makanan bagi pengunjung mall.

“November mendatang, kami akan menggelar Jadoelan Suroboyo Wr Soepratman untuk masyarakat Surabaya dengan mengusung tema cangkruk-an yang menghadirkan UKM makanan tempo dulu,’’ tambah Heru didampingi Devi Rahmawati Assiten Marketing Comunication Manager.

Sehubungan kompleksitas permasalahan hubungan kerjasama mall dengan UKM, pemkot seyogyanya juga membuat regulasi kebijakan yang mengatur hubungan sinergi antara pengusaha mall dan pelaku UKM. Sehingga kepentingan masing – masing pihak dapat terlindungi. (nanang)