Pelaku UKM Butuh Pelatihan Trainer

131

(bisnissurabaya.com) – Excelent Preneur Indonesia (EPI) sebuah wadah bagi pelaku UKM yang berdiri sejak 2015. Pencetusnya tiga orang, yaitu Dani, Olli, dan Sasa. EPI mempunyai visi mencerdaskan wirausaha Indonesia dengan program andalan berupa pelatihan yang diikuti oleh uji kompetensi profesi. Mengapa pelatihan  trainer ?

‘Kami ingin setiap UKM dapat melakukan presentasi produknya dan juga mengajar orang lain untuk berwirausaha,” kata Ketua EPI, Najma Ramadhani, kepada  Bisnis Surabaya, pekan lalu.

Berbagai kegiatan  diselenggarakan EPI. Diantaranya, pelatihan di Joglo Ketintang,   pelatihan di Madiun bazaar dan seminar di Gresik, instagram gathering, pelatihan psichologi UKM, pelatihan foto produk UKM, pelatihan motivasi anti gagal dsb.

Anggota EPI, kata dia, mencapai 100 orang dengan jenis usaha yang berbeda-beda. Seperti Qonita Ayu teh pelangsing, Sukma Trilaksasih, boneka adat nusantara, Dewi acsesoris rajut, Tiwi tudung saji, Ririen Ariyani, tas dari tali kur, Ita Sahroni, tas handycraft, Aisya Nazimah frozen food, Mia Rose bros dan gelang, Liza souvenir clay, Yana susu kemasan, Syafik pelepah pisang, Joko Kurniawan motivator dan lain lain.

“Setiap UKM mempunyai booth yang bagus dan dapat  berjualan  di mall adalah impian kami. Karena kami harus bisa menyesuaikan diri dengan standard yang ada di mall,’’ kata Najma, yang juga penulis buku Goresan Ahwat dan Serenande.

Dalam rangka kerjasama dengan Mini Market Alfa, Masjid Agung, dan beberapa mall, EPI mempersiapkan anggotanya dapat berlaku profesional serta dapat menyesuaikan diri dengan aturan yang ada di mall.

“Sebetulnya, banyak hal memberatkan pelaku UKM. Antara lain sistem konsinyasi dan sistem  bagi hasil. Kadang -kadang kami diminta bagi hasil 60:40 dari harga jual, 60 persen untuk kami dan 40 persen untuk mereka,’’ ujar Najma, yang pernah presentasi dihadapan Gubernur.

Karena itu, gerakan memasyarakatkan wirausaha dan mewirausahakan masyarakat harus juga diimbangi dengan regulasi pemerintah yang berkeadilan serta berpihak kepada para UKM.

Sementara itu, Gerakan Wirausaha Mandiri (GW Man) yang dikoordinatori Mustakim, lebih mengedepankan sirkulasi penjualan. Diantara anggota dengan melibatkan masing-masing anggota sebagai resaler produk yang dihasilkan.

“Kami juga mengkombinasikan pembuatan produk menggunakan bahan yang dijual oleh anggota kami sendiri. Contohnya, membuat pentol bakso dari daging sapi dicampur daging ayam giling frozen,’’ jelas  Mustakim, kepada Bisnis Surabaya.

Saat ini anggota yang terdaftar di GW Man mencapai ratusan orang. Anggotanya terdiri dari Banu grosir buah dan sayur, Moestar Affandi risol mayo, Icha Hadisa teh rosella, Reni minuman infuse mojito, Tanti bakso nasa, Nana kalung kawat tembaga, Dian Rini kopi ijo, Habsiyah kebab, Husna nasi bakar, Kumaiyah obat herbal, serta lainnya.

Mustakim berharap agar pemerintah dapat mendorong mall yang belum bekerjasama dengan pelaku UKM supaya bisa segera membuka diri untuk bekerjasama secara  simbiosis mutualisme dengan pelaku UKM.

“Saya yakin dengan kerjasama dengan UKM maka mall akan ramai pengunjung, dan pendapatannya akan meningkat,” tambah Mustakim, yang juga pelaku UKM pentol. (nanang)