Akuntabilitas Profetik :Potret Transformasi Sosial dalam Mekanisme Pertanggungjawaban Organisasi

94

(bisnissurabaya.com) – Mekanisme pertanggungjawaban adalah suatu proses yang harus dilaporkan dari bawahan kepada atasannya atau dari yang memberi amanah kepada yang diberi amanah. Mekanisme pertanggungjawaban merupakan bagian dari akuntansi. Mekanisme pertanggungjawaban yang terjadi pada semua lingkungan organisasi baik privat maupun organisasi publik untuk mewujudkan akuntabilitas masih mengacu pada akuntansi modern. Dalam akuntansi modern masih di pengaruhi oleh praktik-prakik kapitalisme yang mendasarkan pada konsep rasionalisme kebenaran berdasarkan kekuatan rasio, kepentingan individualisme dan egoisme, kerakusan hawa nafsu dan akivitas ekonomi yang digerakkan oleh pemilik modal. Sistem kapitalisme yang memberi warna dalam akuntansi modern menimbulkan persoalan akuntabilitas yang merupakan konsekwensi logis dari masalah hubungan keagenan (principal-agent relatonship), prinsipal adalah pihak yang harus diberikan tanggungjawab, sedangkan agen merupakan pihak yang melakukan pertanggungjawaban.

Implementasi Akuntabilitas diterapkan untuk menyakinkan bahwa hubungan agen dan principal. Ketika kedua pihak ini menjalankan fungsinya masing-masing secara prosedural maka diharapkan untuk organisasi di lingkungan privat sektor menghasilkan pendapatan lebih besar daripada pengeluaran, sehingga yang penting adalah mengoptimalkan baik secara teknis maupun keuangan, proses produksi di perusahan, dan hubungan input-output dan lain sebagainya yang hanya menekankan pada faktor-faktor material saja. Seharusnya akuntabilitas tidak terpisah-pisah menjadi beberapa jenis, seperti akuntabilitas keuangan, akuntabilitas sosial, akuntabilitas manajemen, dan hak-hak asasi manusia. Kesemuanya tersebut seharusnya mampu direfleksikan secara utuh dalam akuntansi.

Menurut Triyuwono  (2009), akuntansi laksana pedang bermata dua, yaitu selain dapat dibentuk oleh lingkungannya (Socially Constructed) juga dapat membentuk lingkungannya (Socially Constructing). Oleh karena itu tingkah laku individu yang berlangsung dalam hubungannya dengan faktor lingkungan yang menghasilkan akibat-akibat atau perubahan dalam faktor lingkungan tersebut yang menimbulkan pengaruh terhadap perubahan tingkahlaku. Jadi terdapat hubungan fungsional antara tingkahlaku dengan perubahan yang terjadi dalam lingkungan organisasional. Jadi tingkahlaku manusia lebih bersifat mekanik. Usaha untuk meminimalisir perilaku manusia yang bersifat seperti robot tidak berdasar pada hati nurani dan prinsip-prinsip agama inilah yang mendorong munculnya gaya hidup manusia secara profetik kembali kepada kodratnya.

Akuntabilitas profetik merupakan suatu gerakan transformasi sosial dalam proses pertanggungjawaban menuju ketuhanan dengan dimensi ketauhidan. Akuntabilitas profetik  dengan dimensi ketauhidan akan merubah pola pikir, karakter dan niat dari semua individu yang terlibat dalam proses dan mekanisme pertanggungjawaban. Pertanggungjawaban berarti seluruh pihak mampu mempertanggungjawabkan tindakannya baik individual, sosial maupun sipritual serta yang bersifat materi maupun non materi. Dengan adanya perubahan mindset spiritual dalam individu diharapkan dapat mempengaruhi tingkah lakunya. Perubahan tingkahlaku individu yang mendasarkan pada aspek-aspek spiritual maka akan mendorong individu untuk melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya secara prosedural sehingga akan mendorong terciptanya tujuan organisasi. Akuntabilitas profetik bersifat transendental yakni mewujudkan “rahmatan lil alamin”, mewujudkan kesejahteraan seluruh semesta, tidak hanya umat manusia, namun juga makhluk lain selain manusia.

Dengan demikian, suatu tatanan harmonis yang berorientasi ilahiah dapat terwujud (mekanisme pertanggungjawaban satu kesatuan antara material dan spiritual). Dengan terwujudnya harapan tersebut maka akan mengubah peradaban organisasional menuju peradaban berbasis spiritual. Dalam akuntabilitas profetik  merefleksikan bahwa dalam penerapan akuntabilitas harus ada rasa kepercayaan.    Ketika gaya hidup profetik telah termanifestasi dalam diri maka semua aktivitas dan tindakan yang dilakukan oleh manusia akan berdasarkan pada kaidah dan aturan/norma agama.