I Made Arnaja : Menanti Festival Durian

557

(bisnissurabaya.com) – Selain cengkeh, Tajun juga merupakan salah satu desa di Buleleng yang memiliki potensi penghasil berbagai jenis durian. Selama ini, hanya cengkeh yang menjadi ikon desa. Untuk mengenalkan potensi lain yang dimiliki desa ini, petani kreatif I Made Arnaja, akan menggagas Festival Durian.

Pensiunan notaris yang saat ini fokus menekuni pertanian ini mengatakan banyak potensi yang dimiliki desa Tajun. Namun, belum maksimal dikembangkan. Dengan terselenggaranya festival durian ini dirinya berharap dapat mengenalkan desa dan potensi yang dimiliki. “Selain cengkeh, orang akan tahu bahwa Tajun juga menghasilkan durian dan akan mengenal daerah kami melalui festival ini,” ungkapnya. Disisi lain, kesempatan itu akan dimanfaatkan untuk mengenalkan produk-produk yang ia dihasilkan selama menekuni pertanian beberapa tahun terakhir.

Ide ini muncul atas inisiasi sendiri dengan terinspirasi dari pengalamannya diberbagai group pertanian. Ide-ide muncul dari teman-teman di luar kemudian diaplikasikan di daerahnya sendiri. “Saya kira ini ide yang sangat bagus dan didukung potensi yang ada,” ungkapnya.

Arnaja, sangat berharap Festival Durian yang akan diselenggarakan akhir Februari atau awal Maret 2018 ini dapat berjalan dengan lancar. Dirinya yakin festival ini sebagai salah satu cara mengembangkan Desa Tajun. Hanya saja dalam pelaksanaannya ada beberapa kendala yang dihadapi.

Salah satunya terbatasnya lahan durian yang dimiliki. Diatas lahan seluas kurang lebih 1,5 hektare terdapat puluhan pohon durian berbagai jenis tentu dirasa masih kurang untuk mendukung suksesnya festival durian.

Arnaja, berinisiatif menggandeng petani-petani penghasil durian di desanya untuk mendukung acara tersebut. Bahkan tidak hanya durian, pihaknya juga akan menawarkan buah-buah lain yang dihasilkan dari Desa Tajun seperti buah naga dan manggis. “Kita akan tawarkan buah-buah lain sebagai pendukung acara,” jelasnya.

Hambatan yang sangat berarti dalam penyelenggaraan Festival Durian ini menurutnya keadaan cuaca dan musim buah. Dengan pertimbangan yang sangat matang, pihaknya merancang waktu pelaksanaan di bulan Februari atau Maret untuk menghindari musim hujan. Hanya saja yang ia takutkan ketersediaan buah durian yang semakin menipis.

Sehingga tak mampu memenuhi permintaan saat festival tiba. “Kita kan tidak tahu jika buah terus kena hujan pasti akan rontok. Sehingga ini sangat berpengaruh terhadap ketersediaan buahnya. Saya sih sangat berharap acara ini berjalan dengan lancar,” tuturnya.

Arnaja, menambahkan acara Festival Durian juga sebagai bentuk dukungan terhadap program Pemkab Buleleng yang fokus terhadap pertanian di tahun 2018. Bahkan, dirinya sangat mengharapkan dukungan dari berbagai pihak untuk sama-sama memajukan Buleleng. “Saya ingin bersama-sama membangun Buleleng, agar orang Buleleng tak hanya berkembang di daerah lain tetapi di daerahnya sendiri,” tutupnya. (wiwin meliana)