(bisnissurabaya.com) – Musim Pancaroba yang dialami Kota Surabaya turut mempengaruhi bisnis ikan asin rumahan warga Bulak Cumpat, Surabaya. Cuaca yang tidak menentu turut andil dalam proses pengeringan ikan asin, sehingga menyebabkan penurunan hasil ikan asin mencapai 40 persen.

Menurunnya produksi ikan asin juga berimbas pada harga jual ikan asin ke pengepul. Dari Rp 30.000 per kilogram menjadi Rp 20.000 per kilogram, untuk jenis ikan asin bulu ayam yang sering menjadi langganan para pengepul.

Salah satu pengusaha ikan asin di daerah itu ialah Li’ah (52). Perempuan tersebut memulai bisnis ikan asin sejak tahun 2000an, saat ini merasakan dampak dari menurunnya omset perbulan dari berbisnis ikan asin. “Di musim panas saja setoran ikan asin bisa mencapai 20 kilogram lebih, jika cuaca seperti ini ya kita hanya bisa setor ke pengepul 5-7 kilogram per hari,” ujarnya.

Hal serupa juga di alami oleh Qoirul (47), salah satu nelayan di desa Bulak Cumpat, menurutnya hasil tangkapan juga menurun drastis dari biasanya. “Kendala terbesar para nelayan disini ya hujan angin, jika hujan angin melanda semua nelayan dikampung ini terpaksa libur dari pada berresiko nantinya,” terang pria paruh baya ini.

Qoirul mulai berlayar menjaring ikan pukul 3 pagi dan pukul 4 sore. Karena, menurutnya waktu yang tepat untuk menjaring ikan adalah pagi dan sore hari. Jika belakangan hujan sering  terjadi pada sore hari, terpaksa ia hanya bisa menjaring ikan di pagi hari saja.

Yang patut di ketahui ialah, hampir semua warga Bulak Cumpat berprofesi sebagai nelayan dan pengusaha ikan asin. Jadi jika curah hujan di Surabaya sedang meninggi beberapa warga pun turut merasakan kerugian serupa. (lely)