Bank Jatim Siap Bersaing Diperbankan Syariah

458

(bisnissurabaya.com) – Bank Jatim Syariah mempersiapkan strategi spin off dari Bank Jatim pada 2018. Hal itu dilakukan dalam upaya mendongkrak kinerja Bank Jatim Syariah, agar mampu memenangkan persaingan industri perbankan syariah secara nasional. Bank Jatim Syariah mempersiapkan berbagai strategi. Antara lain, pengembangan pasar yang spesifik, unik dan berbeda dari produk yang selama ini diimplementasikan bank-bank konvensional, menambah dan memperluas jangkauan  pasar sasaran, saluran distribusi dan target segmen yang lebih variatif. Juga, strategi pengembangan produk  yang lebih aplikatif terhadap  kebutuhan pasar Syariah, mengingat mayoritas masyarakat Indonesia yang muslim.

Tahun ini, Bank Jatim Syariah memiliki fokus meningkatkan kualitas Sumber Daya Insani (SDI), peningkatan layanan berbasis IT,  untuk menunjang kecepatan proses proses dan mutu layanan. Disektor pembiayaan ritel dan mikro, Bank Jatim Syariah akan menjalankan program unggulan yang mengedukasi dan mencetak wirausahawan wirausahawan baru dengan pola klaster dengan lembaga lembaga organisasi keagamaan seperti  lambaga di bawah naungan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah, Pimpinan Wilayah Aisyah serta Pimpinan Wilayah Nadhatul Ulama di Jawa Timur. Upaya ini dimaksutkan  agar Bank Jatim Syariah mampu  bersiang meramaikan bisnis perbankan Syariah di tanah air.

Sementara itu, PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk menargetkan izin prinsip pemisahan (spin off) Unit Usaha Syariah (UUS) menjadi Bank Umum Syariah (BUS) dan diharapkan bisa dikeluarkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam waktu dekat ini.

Direktur Utama Bank Jatim, Soeroso

“Izin prinsip semoga awal tahun ini. Karena mendirkan BUS memiliki beberapa tahapan. Setelah nantinya izin prinsip disetujui, kemudian perusahaan mengajukan izin operasional. Tapi proses turunnya izin kewenangan OJK. Izin prinsip tersebut salah satunya menentukan jajaran direksi maupun pengurus. Tahapan lainnya setelah izin prinsip disetujui yakni adanya fit and proper test bagi jajaran direksi yang diajukan. Kami melihat OJK juga sangat responsif, jadi harapan kami, semakin cepat semakin baik,” kata Direktur Utama Bank Jatim, Soeroso.

Kinerja Bank Jatim Syariah, akhir September 2017 mencatatkan aset yang tumbuh 7,17 persen (yoy) dari sebelumnya sebesar Rp 1,56 triliun menjadi Rp 1,68 triliun. Bank Jatim Syariah menetapkan target pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) pada 2018 sebesar 5,2 persen, dengan fokus pada peningkatkan komposisi CASA (dana murah) sebesar 27-28 persen. Dalam mengejar pertumbuhan asset produktif, Bank Jatim Syariah menetapkan rencana bisnis 2018 di sektor pembiayaan sebesar 15-20 persen.

Kepala Bank Jatim Syariah, Didik Sudarsono

Penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 9,98 persen (yoy) dari sebelumnya sebesar Rp 952,53 miliar menjadi Rp 1,05 miliar. Pembiayaan tumbuh 9,79 persen (yoy) dari sebelumnya sebesar Rp 795,17 miliar menjadi Rp 881,45 miliar. Secara umum pembiayaan oleh Bank Jatim Syariah di sektor UMKM, Konsumer dan Mikro Pra Sejahtera sebesar 75 persen sisanya sebesar 25 persen untuk pembiayaan korporasi seperti pembiayaan sindikasi BIJB (Bandara Internasional Jawa Barat) serta membiayai pembangunan Rumah Sakit dan Perguruan Tinggi. (norah)