(bisnissurabaya.com) – Kebahagiaan menjelang Tahun Baru 2018 seharusnya dirasakan semua orang. Tetapi tak bisa dirasakan Yoyok Sutikno. Pria kelahiran Surabaya, 6 Desember 1980 yang bertugas sebagai  pengawas rumah pompa air di Gadukan Surabaya tak ikut larut dalam kegembiraan malam pergantian tahun.

Kalau biasanya pada liburan menjelang tahun baru banyak orang memanfaatkan untuk berlibur di tempat wisata yang ada di dalam maupun di luar kota, Yoyok, justru sibuk dengan pintu air dan panel listrik pengendali di rumah pompa yang menjadi bagian dari tugas pokok dan fungsinya.

“Saya bertugas mengawasi debit air dan mengoperasikan serta merawat pompa banjir. Jika debit air naik, maka pintu banjir harus segera ditutup,” kata Yoyok, kepada Bisnis Surabaya, pekan lalu.

Yoyok, bekerja pada Dinas Pengendalian Banjir Surabaya mulai 1999 yang saat ini berubah nama menjadi Dinas Pekerjaan Umum. Hampir semua rumah pompa di Surabaya pernah dipegangnya. Mulai rumah pompa Semolowaru, Medokan Semampir, Kalibokor, Gunungsari, dan terakhir di Gadukan sejak 2004 sampai sekarang.

Terlahir sebagai putra dari seorang penjaga pompa banjir, membuat dari ayah dari Arjuna Arya Satya Pratama, ini akrab dengan kehidupan dan seluk beluk aktifitas di rumah pompa. Suwito ayah Yoyok, adalah seorang kepala rumah pompa di Darmo Kali. Dari ayahnya ia banyak belajar tentang tugas pokok seorang penjaga rumah pompa.

“Karena terlahir dari keluarga sederhana dan memiliki banyak saudara, maka keinginan saya bisa untuk segera bekerja setelah lulus sekolah, supaya membantu ibu dan bapak saya. Kemudian saya melamar sebagai satgas dengan honor Rp 65.000 per bulan. Setelah itu meningkat jadi tenaga honorer. Alhamdulilah, sekarang sudah diangkat pegawai negeri sipil,’’ tambah Yoyok, yang juga penggemar aksesoris batu akik ini.

Sebagai penjaga pompa banjir, Yoyok, siap bekerja 24 jam sehari. Terlebih saat musim penghujan. Biasanya pada saat musim penghujan, Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, sering melakukan inspeksi mendadak. Bahkan dalam satu hari bisa sampai melakukan sidak hingga tiga kali .

Masih segar dalam ingatan Yoyok, sekitar 2010 sekitar pukul 03.00 dini hari rumah pompa Gadukan tempat Yoyok, bekerja didatangi Tri Rismaharini, untuk memeriksa kesiapan alat dan personel rumah pompa. Kemudian Risma, mengajak seluruh anggota penjaga rumah pompa untuk makan bersama nasi bungkus.

Banyak suka-duka yang dialami Yoyok, selama menjalankan tugas sebagai penjaga rumah pompa. Mulai menemukan ular phiton besar, uang, dan perhiasan di sungai. Kebersamaan dan keakraban diantara sesama penjaga pompa juga menjadi kebahagian tersendiri.

Perilaku masyarakat yang  membuang sampah di sungai menjadi duka tersendiri bagi Yoyok. Karena itu dia berharap agar warga masyarakat juga ikut menjaga kebersihan sungai dengan tak membuang sampah di sungai. Karena sampah yang dibuang di sungai dapat mengakibatkan banjir.

Harapan Yoyok, kepada pemerintah agar penjaga rumah pompa seperti dirinya dapat diberi kemudahan akses untuk memiliki rumah murah di sekitar Surabaya. Hal ini supaya lebih  memudahkan mobilitas menuju ketempat kerja. (nanang)