(bisnissurabaya.com) – TELUR ASIN atau telur bebek dengan rasa di dalamnya jadi peluang bisnis. Tentunya, membuka usaha telur asin juga tak boleh asal-asalan. Tetapi, harus mengetahui trik agar bisa berkembang. Seperti yang ditekuni Khairudi, warga Bulusan Kalipuro. Telur asin buatannya banyak dikirim kebeberapa daerah di Banyuwangi, bahkan ke Bali.

Pria yang akrab dipanggil Rudi, ini memulai bisnis telur asin pada 2015 hingga sekarang permintaan telur asin sangat tinggi. Apalagi menjelang Natal dan Tahun Baru 2018. Omzet pun mengalami peningkatan. Sehari, pria yang juga peternak sapi ini mampu meraup keuntungan hingga Rp 1 juta.

“Awalnya sedikit, lalu karena banyak permintaan jadi bebeknya ditambah. Sekarang sudah ada sekitar 1000 ekor,” kata Rudi, kepada Bisnis Banyuwangi,pekan lalu. Dengan memelihara bebek sebanyak 1000 ekor dalam dua kandang yang saling berhadapan, Rudi, dibantu dua tenaga pakan dan bersih-bersih. Meski usaha ini menggiurkan, kata dia, tetap saja mengalami pasang surut.

Pasalnya, telur rentan pecah dan busuk. Sehingga banyak konsumen yang mulai mundur. Namun, seiring perjalanan waktu, pria tiga anak ini mulai belajar dari kesalahan. Dua tahun terakhir, kualitas telur asin miliknya sering menjadi jujugan pedagang besar. Mulai dari Genteng, Kalibaru, Rogojampi hingga Jembrana, Bali.

“Telur asin disini dikembangkan dari bebek kombong,” kata Rudi, yang mengawali usaha dengan modal hanya Rp 500.000 tersebut.

Ia mengatakan, permintaan telur asin tetap tinggi. Secara bisnis, usaha telur asin memiliki prospek yang baik. Sebab, konsumsi telur di masyarakat selalu stabil. Pangsa pasar telur asin sangat luas, mulai tengkulak hingga pasar tradisional. Sistem penjualan pertama biasanya dikirim langsung oleh Rudi, kebeberapa toko di sekitar Kalipuro dan Wongsorejo.

Tak jarang, konsumen datang langsung ke rumahnya di lingkungan Krajan, Bulusan, Kalipuro. Tapi, saat ini pihaknya tinggal menerima order secara online. Kendalanya, masih seputar masuknya telur bebek dari daerah lain. Namun, hal itu tidak menjadi masalah. Karena masih banyak pelanggan yang memilih dirinya mengirimkan telur. “Yang paling ramai saat musim Maulid. Juga saat musim hari raya, baik Idul Fitri maupun Idul Adha,” pungkasnya. (wid)