(bisnissurabaya.com) – Mendulang untung aksesoris kalung. Setiap perempuan selalu ingin tampil cantik dalam setiap kesempatan. Keinginan ini membuat banyak perempuan rela merogoh kocek lebih dalam untuk membeli pakaian maupun aksesoris yang dapat menunjang penampilan dirinya.

Peluang besar ini berhasil ditangkap Ribut Ernawati, perempuan kelahiran Jombang Jawa Timur (Jatim) yang akrab disapa dengan panggilan Mbak Nana. Nana yang menekuni dunia menjahit lebih dari 20 tahun itu berhasil membuat aneka produk aksesoris, utamanya kalung dari bahan sisa-sisa kain jahitan.

Kalung buatan nana mempunyai varian antara lain, kalung tembaga bakar, kalung batik, kalung kawat (wire), dan suspeco. Nana, membandrol kalung buatannya mulai harga Rp 300.000 dan seterusnya tergantung tingkat kesulitan cara membuatnya.

Sebelumnya, dari hasil bekerja menjahit, Nana, yang single parent ini berhasil membeayai kehidupannya sehari-hari. Termasuk membeayai kuliah salah seorang anaknya di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang.

Pada saat pameran di Jombang, stand milik Nana, dikunjungi Ketua PKK Kabupaten Jombang yang juga istri Bupati Jombang Nyono Suharli. Karena puas dengan kalung k buatan Nana, maka Ibu Nyono Suharli, mengirim Nana ke Dewan Kerajinan Nasional Daerah (DEKRANASDA) Provinsi Jatim untuk ikut dalam misi dagang Jatim yang dikoordinir Dinas Industri dan perdagangan Provinsi Jatim.

“Kemudian saya mengikuti berbagai pameran di luar kota seperti Trend Expo Jakarta dan di Bumi Serpong Damai Tangerang Banten,’’ kata Nana, kepada Bisnis Surabaya, pekan lalu. Rupanya nasib baik terus menghampiri Nana. Saat itu, ketika sedang belanja bahan kalung di Pusat Grosir Surabaya (PGS), pemilik toko bertanya kepada dirinya.

Dipergunakan untuk membuat kerajinan apa bahan-bahan tersebut? Rupanya pemilik toko baru pecah kongsi dengan mitra binisnya dan dia mendapatkan bagian barang-barang dagangan yang dia sendiri tak pernah tahu digunakan untuk kerajinan apa barang-barang tersebut.

Setelah mendengar penjelasan dari Nana, dan melihat ada peluang bisnis yang menarik, pemilik toko menawari Nana untuk bekerjasama sebagai desainer kalung dan melatih karyawan di tempatnya. Desain kalung buatan Nana, kemudian dikirim ke PGS dan Asemka Jakarta.

“Saya menyambut baik tawaran kerjasama tersebut, dan alhamdulilah saya mendapat gaji yang terbilang lumayan untuk ukuran kerja yang hanya 12 hari per bulan,” aku  Nana.

Selain bekerja sebagai desainer di industri kalung milik mitranya tersebut, Nana juga melayani permintaan sebagai instruktur untuk kursus desain produk kalung dengan beaya yang cukup terjangkau. Yaitu Rp 1 juta per orang. Dia juga menerapkan potongan harga bagi siswa yang tak mampu.

Seiring dengan perkembangan waktu, produk kalung buatan Nana, yang di pasarkan lewat media online dan berbagai pameran makin dikenal banyak orang. (nanang)