Indra Siswo Suwignyo, Bergelut dengan Kawat dan Besi

126

(bisnissurabaya.com) – Aksesoris kalung dan gelang kawat. Walau kehadiran aksesoris bagi sebagian besar laki laki bukan menjadi kebutuhan utama, namun ada sebagian lelaki yang sangat memperhatikan keberadaan aksesoris sebagai bagian dari penampilannya. Sehingga memadupadankan aksesoris kalung atau gelang menjadi suatu tradisi tersendiri.

Berawal dari seringnya melihat proses pembuatan gelang dan kalung di youtube, membuat Indra Siswo Suwignyo, pri kelahiran Surakarta, 14 maret 1963 menjadi terinspirasi untuk menciptakan produk kalung dan gelang dari kawat tembaga bakar yang dapat menunjang penampilannya.

Disela-sela kesibukannya sebagai guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN) di SMK Siang 1, dan dengan didorong mood yang kuat, Indra yang lulusan IKIP Bojonegoro mengekspresikan darah seni yang dimilikinya dengan melakukan eksperimen pembuatan kalung dan gelang dari kawat.

Setelah sekian lama melakukan eksperimen, dalam waktu tiga hari Indra, mampu membuat 1 unit gelang atau kalung. Dia memadukan tembaga bakar dan batu mulia dalam pembuatannya. Sehingga menghasilkan gelang atau kalung yang cantik dan menarik.

Aneka aksesoris yang berhasil diciptakan antara lain, bros, gelang, cincin, liontin, pendet atau bandul kalung. Harganya variatif mulai Rp 500.000 sampai tak terbatas tergantung tingkat kesulitan dan kerumitannya.

Koleksi kalung, gelang, atau bros buatan Indra, banyak dikoleksi pejabat atau orang penting di negeri ini. Antara lain, gelang motif bunga melati dibeli istri Bupati Bojonegoro, Ny Suyoto. Selain itu ada lagi beberapa kalung dan gelang yang dibeli Martini Suarsa seorang desainer kondang kenamaan.

Indra, juga sering mengekspresikan suasana hatinya menjadi sebuah karya. Antara lain, bros “aku menangis“ yang dibuatnya saat dirinya mengalami kesedihan yang sangat mendalam.  Bros “kumbang malam“ diciptakan saat dia terpesona melihat keberadaan binatang kumbang malam di sebuah taman.

Selain menekuni pembuatan kalung dan gelang dari kawat tembaga yang memiliki citarasa yang tinggi, Indra, sehari-hari juga mendalami olahraga fitness yang banyak bergelut dengan alat-alat olahraga dari besi. Pendek kata Indra, berhasil memadukan kelembutan kawat dan kerasnya besi.

“Kata teman-teman saya, saya ini pribadi yang unik. Sekolah di IKIP dan mengajar di PPKN. Tetapi bergelut dengan kawat dan besi,’’ ungkap Indra, yang membagi keterampilan dibidang kawat menjadi tiga. Yaitu dasar, terampil, dan ekstrem.

Sebagai pengusaha UKM, Indra, masih mengeluhkan keberadaan beberapa outlet gallery yang menerapkan sistim konsinyasi dan bagi hasil yang rendah. Karena itu dia berharap adanya regulasi kebijakan dari pemerintah yang dapat melindungi kepentingan para UKM. (nanang sutrisno)