(bisnissurabaya.com) – Pengiriman barang melalui jasa kantor pos maupun ekspedisi mengalami peningkatan. Apalagi dibarengi semakin berkembangnya pasar e-commerce di Indonesia dianggap sebagai peluang besar bagi pelaku usaha jasa pengiriman barang.

Kepala Kantor Pos Juanda Surabaya, Petrus, mengatakan, saat menjelang, sesudah Natal dan Tahun Baru ini mengalami peningkatan penerimaan barang ke Surabaya sekitar 25 persen dan pengiriman barang meningkat 25 persen dibandingkan dengan pengiriman barang pada hari biasa. ”Sejak H-7 Natal yang lalu peningkatan ini sudah mulai terasa,” kata Petrus, kepada Bisnis Surabaya, pekan lalu.

“Jika hari biasa hanya mengirim sekitar 30 karung per hari, memasuki masa liburan pengiriman maupun peneriman bisa mencapai 50 karung lebih, dimana per karungnya sekitar 30 kilogram,” tambahnya. Banyaknya pengiriman maupun penerimaan barang di kantor pos masih didominasi dari Jakarta dibandingkan dengan kota-kota lainnya.

Tentang armada pengiriman, ia menyatakan, jasa pengiriman melalui kantor pos pada hari biasa isi mobil tidak terlalu penuh. Tetapi saat ini  penuh. Kebanyakan penerimaan dan
pengiriman barang dari Surabaya maupun sebaliknya berupa hadiah barang, aksesoris maupun dari belanja online shop. ”Memang trennya lebih banyak peningkatan penerimaan dibandingkan pengiriman karena masyarakat Surabaya lebih banyak yang berbelanja,” imbuhnya.

Menurut dia, banyaknya penerimaan barang memasuki masa liburan panjang ini membuat kantor pos harus menambah angkutan ekstra melalui jalur darat. ”Ini merupakan antisipasi jalur darat agar tak terjadi overload, dalam 2-3 hari kita ada penambahan 1 mobil angkutan,” ujarnya.

Era e-Commerce

Ketua Umum DPP Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspress Pos dan Logistik Indonesia (Asperindo), M Feriadi, menambahkan, pangsa pasar e-commerce Indonesia merupakan salah satu yang paling besar di Asia. “Indonesia punya potensi e-commerce yang sangat besar dan sangat sayang kalau tak dieksplore,” jelasnya.

Terkait produk dalam negeri, menurut dia, produk UKM Indonesia tak kalah dibanding produk luar. Namun, Indonesia dibombardir barang dari luar negri karena harganya kalah bersaing.

Sebenarnya produk dari Indonesia bisa di pasarkan di luar negeri. Hanya saja kendala saat ini mahalnya barang dalam negeri adalah beaya logistiknya yang terlalu tinggi menjadi kendala.

Seperti ongkos logistik di Indonesia mencapai 24 persen dari total harga barang di pasaran. Karena itu membuat platform digital yang bisa dipakai semua anggota ekspedisi supaya bisa mengakselerasi bisnis anggotanya.

Secara umum, bisnis anggota Asperindo terbagi tiga yaitu intra city, inter city dan internasional. Dengan platform tersebut, anggota bisa berkolaborasi khususnya untuk memasarkan produk-produk di daerah masing-masing.

Seperti diketahui, Natal dan Tahun Baru 2018 membuat sejumlah jasa pengiriman barang mengalami peningkatan secara merata di seluruh Indonesia. Peningkatan tersebut bukan hanya  pengiriman dari Jakarta ke luar kota, tetapi juga penerimaan dari luar kota ke Ibu Kota.

Informasi di lapangan menyebutkan, kebanyakan dalam liburan Natal dan Tahun Baru sangat berpengaruh sekali mengenai peningkatan pengiriman maupun penerimaan barang di tempatnya. Namun, paling banyak pengiriman dalam bentuk makanan, buku-buku, alat tulis, barang cetakan maupun kalender.

Peningkatan pengiriman barang sekitar 30-40 persen dibandingkan dengan pengiriman barang pada hari biasa. Jika diakumulasi, pada hari biasa pengiriman sekitar 20 karung/hari. Memasuki masa liburan pengiriman maupun peneriman bisa mencapai 50 karung lebih/hari, dimana per karungnya sekitar 30 kilogram.

Banyaknya pengiriman maupun penerimaan barang masih didominasi dari Jakarta dibandingkan dengan kota lainnya. Mengenai armada pengiriman, sebagian perusahaan jasa pengiriman melakukan penambahan armada atau personal untuk pendistribusian barang ke konsumen. (ton)