(bisnissurabaya.com) – Lukisan sangat indah untuk dinikmati. Apalagi yang menguat pada tiap dimensi garis tak membosankan dilihatnya. Kecenderungan mencampur tone warna dari gelap ke terang. Begitu juga sebaliknya merupakan teknik cukup sulit hingga menelurkan karya – karya cantik.

Setidaknya pemandangan indah ini bisa dinikmati selama sebulan ke depan di lobby Verwood Hotel & Serviced Residence Surabaya, mulai 15 Desember 2017-  15 Januari 2018 mendatang. Lukisan yang rata – rata dijual seharga Rp 20 jutaan ini diusung oleh Goedang Loekisan dalam sebuah pameran tunggal memorabilia Taufik Rahman, pelukis yang telah bergabung dalam manajemen ini sejak 2010 silam.

“Pameran ini sebenarnya lebih kearah memorabilia dari Taufik Rahman, adalah karya – karya awal dia sejak gabung dengan tim managemen Goedang Loekisan sejak 2010 lalu,” kata pemilik Goedang Loekisan, Abidin, saat dijumpai Bisnis Surabaya di Verwood Hotel, Selasa (19/12). Sejak awal, karya Taufik Rahman, menguat pada teknik garis.

Abidin di antara karya – karya Taufik Rahman yang dipamerkan di Verwood Hotel & Serviced Residence Surabaya

Mulai dari gaya, berupa garis – garis lembut dengan warna gelap, hingga bergeser ke goresan spontan yang lebih segar berpadu warna – warni yang selalu menggoda untuk dinikmati tiap detailnya. “Motion in Line” adalah sebuah ilustrasi yang tepat untuk menggambarkan karya pria kelahiran Sumenep, 4 Juli 1975 tersebut.

Goresan yang mampu menggerakkan imajinasi setiap penikmatnya, sebuah bukti bahwa Taufik berproses dan bermetamorfosis. “Taufik kuat pada teknik, jadi kekuatan teknik Taufik sebenarnya yang lebih diandalkan, kalau tema – temanya dia sederhana, sama dengan pelukis – pelukis realis on the spot. Saya yakin ke depan ia akan melahirkan karya – karya yang mampu menginspirasi,” imbuh Abidin.

Seperti kebanyakan pelukis pada umumnya, Taufik lebih banyak mengamati, datang ke sebuah lingkungan, mengambil foto, hingga merekam on the spot atau dengan kamera untuk kemudian dituangkan dalam karya – karya “magisnya”. Seperti Penari Bali, Abang Becak, Sepasang Kuda, Pasar Kambing Madura, Pasar Sapi Madura, Karapan Sapi Madura, dan Pasar Ayam Madura.

“Karena dia tinggal di Sumenep, yang sering dia lihat seperti suasana pasar hewan, karapan sapi, pasar kambing, pasar ayam, merupakan beberapa karya – karya lamanya,” tukas Abidin. Lukisan Taufik Rahman, adalah sebuah karya original yang kini diikuti oleh beberapa seniman muda Kota Pahlawan. Pelukis yang baru saja memenangkan World Contemporary Artist (WCA) Organisation sebagai Winner of The Year 2017 ini mampu melahirkan teknik baru yang tak ada dalam teknik lama, tentu sebuah perjalanan panjang bagi seniman.

“Garis – garis Taufik ini rumit dan baru. Sejak itu anak – anak di Jawa Timur (Jatim) mulai mengikuti teknik melukis Taufik. Sehingga dia harus bergerak ke tingkat lebih,” tutur Abidin menjelaskan. Warna – warna dalam yang dibuat Taufik Rahman, tak akan membosankan siapapun yang melihat, sebuah skill yang jarang dimiliki oleh pelukis Jatim, dibalik dia menggoreskan selalu muncul warna dalam, Taufik menggambar berulang – ulang di belakang garis walaupun tipis.

“Kalau boleh dilihat karya garis – garisnya original sekali, dulu pertama kali saya temukan dia pameran di Balai Pemuda. Begitu gabung dengan Goedang Loekisan, kita treatment colouring, warna – warnanya kita bangun menjadi lebih terasa fresh, kita ajak melihat pameran, dia ikut pameran, kita tidurkan di tempat seniman yang senior,” paparnya.

Karena itu, di penghujung tahun ini Goedang Loekisan merewind kembali cikal lahirnya karya – karya menawan Taufik Rahman sejak 2010, karena rencananya pada 2018 nanti, Goedang Loekisan sebagai managemen sudah menyiapkan karya – karya terbaru seniman yang belajar melukis secara otodidak ini.

Karya Taufik, kata Abidin, direspon pasar cukup bagus. Ia yakin, Taufik Rahman, akan menjadi seniman yang diperhitungkan dalam sepuluh tahun ke depan. Karena pasar yang merespon karya Taufik, adalah pasar yang terdeteksi bagus pun kolektornya rata – rata lima orang terkaya di Surabaya. “Artinya, seniman itu tergantung siapa kolektornya. Taufik sudah menanam itu. Makanya kita buat semacam pameran review kembali, 2011 mulai bisa dilihat warnanya. Taufik termasuk seniman yang cerdas, tak sampai satu tahun kita treatment, karyanya sudah laku di pasaran,” pungkasnya. Bagi Abidin, sosok Taufik Rahman, merupakan satu – satunya seniman lukis Kota Sumenep yang eksis dan mampu hidup dari seni. (lely)