Cara Unik BPJS Kesehatan Cari Peserta

92

(bisnissurabaya.com) – CARA itu memang pantas untuk dikisahkan. Yakni, ketika Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan kabupaten Tulungagung pimpinan dr Indriana Darmayanti punya gagasan yang kedengarannya unik dan aneh. Dokter itu mengeluh, karena penduduk kabupaten itu yang berjumlah 1.085.227 jiwa, ternyata 54,74 persennya belum jadi peserta lembaganya. Padahal, menurutnya jumlah fasilitas kesehatan/faskes (rumah sakit, puskesmas/klinik, dokter spesialis) bertambah. Contoh, pada November lalu 11 faskes dan Desember menjadi 13 faskes.

Lalu Lembaga itu menggandeng dua hotel berbintang di kota itu (Crown Victoria dan Istana), sebuah café dan satu jasa pijat profesional yang bersedia memberikan diskon tarif hingga 35 persen, kalau tamunya bisa menunjukkan kartu BPJS Kesehatan. Tentu dimaksud, adalah bagi penduduk Kabupaten Tulungagung. “Kami menawarkan berbagai kemudahan bagi masyarakat yang ikut jadi peserta.” ujar dr Indriana Darmayanti (19/12).

Nampaknya buat kabupaten itu memang tak ada cara atau obyek lain yang bisa menjadi daya tarik untuk mengajak warga Tulungagung menjadi peserta lembaga itu.

Barangkali kalaulah setiap pemerintahan kabupaten atau kota di Jawa Timur (Jatim) ini mau menginventarisasikan jumlah penduduknya dengan keikutsertaan mereka dalam BPJS Kesehatan, angka persentasenya lebih tinggi yang belum ikut ketimbang yang sudah menjadi peserta.

Apakah karena mereka itu tak faham manfaat menjadi peserta BPJS Kesehatan, atau karena malas mendaftarkannya, atau karena menganggap tidak perlu ikut-ikutan jadi pesertanya. Ataukah yang mungkin lebih banyak karena uang iurannya yang menjadi penghalang karena jumlahnya akan menjadi ‘banyak’ kalaulah suatu keluarga itu terdiri dari 4 hingga lebih dari itu. Sedangkan mereka ‘jarang sakit’, atau kalau sakit cukup berobat dengan cara tradisional.

Tentu saja gagasan unik itu memang ya unik. Sebab, apakah penduduk Tulungagung (yang belum menjadi peserta BPJS Kesehatan) dari kalangan masyarakat yang ‘sering menginap di hotel’. Juga yang memanfaatkan café maupun jasa pijat terkenal itu?

Bukankah yang sering menggunakan jasa-jasa hotel itu berasal dari para  tamu luar kota dan perlu menginap di dua hotel itu? Juga yang ber-café, barangkali terbanyak para anak muda, yang umumnya orang tuanya sudah mendaftarkannya sebagai peserta program kesehatan tersebut. Bukan sebagai para ‘anak muda baru’ yang perlu ditarik perhatiannya untuk ber-BPJS Kesehatan.

Jelasnya, apakah ide tersebut efektif seperti yang diharapkan, ataukah cuma menarik perhatian terutama buat masyarakat kabupaten itu yang belum mendaftarkan diri menjadi peserta, yang jelas memang ide yang unik. Sekurang-kurangnya ada upaya, bagaimana keinginan dokter itu dan lembaganya demi meringankan beban setiap warga itu apabila menderita penyakit dan perlu berobat ke rumah sakit atau dokter tertentu. Macam-macam aja,,,,…..