(bisnissurabaya.com) – Bisnis kembang api terpuruk. Kemeriahan cahaya kembang api banyak dinantikan orang. Terutama saat malam pergantian tahun. Masyarakat baik laki-laki atau perempuan, tua maupun muda, anak-anak ataupun dewasa, terlihat bergembira saat menyaksikan pesta kembang api yang memancarkan keindahan warna di kelamnya langit malam.

Kembang api yang memiliki sekitar 22 merek dagang dan 300 varian, semuanya  berasal dari Kota Liuyang Republik Rakyat China, masuk ke Indonesia melalui Jakarta oleh 20 importir. Kemudian didistribusikan keseluruh Indonesia  oleh  empat perusahan distribusi. Diantaranya, Singky Soewadji dengan bendera Ayu Promotion.

Keberadaan kembang api di Indonesia, penggunaannya berbeda dengan di luar negeri. Di luar negeri hanya pada event tertentu saja. Misalnya di Amerika Serikat, saat moment perayaan Independent Day, demikian juga di United Kingdom dan di Australia. Sedangkan di Indonesia lebih banyak digunakan untuk memeriahkan acara olahraga seperti event Asian Games dan Sea Games. ‘’Pada acara tersebut pemerintah mengeluarkan anggaran sebesar Rp 5 miliar untuk masing-masing event,” kata Singky Soewadji, kepada Bisnis Surabaya, pekan lalu.

Bagaimana kiprah sektor swasta dalam penggunaan kembang api pada moment pergantian tahun di Indonesia? Singky, menjelaskan, Taman Mini Jaya Ancol pernah membelanjakan anggaran sampai Rp 400 juta untuk pembelian kembang api untuk moment pergantian tahun. Dan belanja kembang api sebesar Rp 150 juta sampai Rp 200 juta untuk moment liburan.

Sebenarnya, kata dia, musim panen penjualan kembang api di Indonesia bukan pada saat moment pergantian tahun. Tetapi pada saat puasa. Pada saat ramadhan angka penjualan mencapai 75 persen sampai 80 persen. Rupanya perilaku Consumer Firework (Komunitas Kembang Api) terbentuk seiring dengan tradisi kearifan lokal tanah air yang lain.

Lain di Indonesia , lain pula di China. Di China momen Hari Raya Imlek menjadi ajang pesta kembang api, selama 24 jam dan 30 hari penuh masyarakat China menyalakan kembang api di jalanan. Bayangkan penduduk China yang berjumlah 1.373.541.278 jiwa turun ke jalan dan masing-masing menyalakan 1 kembang api selama 24 jam.

Kembang api di Indonesia pernah mengalami masa keemasan. Hal ini ditandai dengan perputaran penjualan  yang mencapai Rp 100 miliar. Kejayaan kembang api mulai memudar, sejak 2010 sampai 2017. Tren penjualan kembang api menurun, terlebih lagi tahun 2016 sampai 2017 omzet kembang api turun sampai 90 persen. Dari 20 importir hanya bertahan 16. Kemudian 2017 hanya tersisa 10 importir, yang lain gulung tikar.

Sebelum pertengahan 2017, omzet penjualan kembang api di toko saya mencapai Rp 20 juta sampai Rp 100 juta per hari. Pada 16 Desember lalu, saya hanya dapat Rp 40.000, dan satu hari kemudian saya dapat Rp 500.000,’’ kilah Singky Soewadji, yang sudah 12 tahun menjalankan bisnis grosir kembang api.

Kelesuan ekonomi yang disebabkan turunnya daya beli masyarakat, menurut dia, membuat banyak hotel tak lagi menyelenggarakan event yang dilengkapi pesta kembang api. Padahal, biasanya hotel menganggarkan sekitar Rp 5 juta sampai Rp 10 juta untuk belanja kembang api.

Bagaimana dengan prospek penjualan kembang api pada akhir tahun 2017? Singky Soewadjimenjelaskan bahwa sesungguhnya pasar kembang api terbesar adalah di Indonesia Tengah dan Timur. Saat ini Gunung Agung baru meletus, jadi prioritas orang disana tak lagi merayakan tahun baru dan menyalakan kembang api.

Demikian juga kondisi penjualan di NTB, NTT juga melemah. Belum lagi baru-baru ini ada gudang kembang api meledak di Tangerang Banten, bisa menimbulkan efek takut di masyarakat. (nanang)