(bisnissurabaya.com) – Gemerlap Natal dan Tahun Baru 2018 terasa meriah. Apalagi, ditambah dengan liburan sekolah, baik TK hingga perguruan tinggi. Natal dan Tahun Baru pun menjadi harapan baru. Terutama bagi pedagang di pasar tradisional, mall, hotel dan tempat wisata. Sejumlah terminal, stasiun, bandara dan pelabuhan-pun menjadi ramai. Demikian juga tempat perbelanjaan seperti mall ikut penuh. Terjadi peningkatan hingga 25-30 persen dibanding hari-hari biasa. Jumlah pengunjung yang memadati di beberapa pusat perbelanjaan atau mall dalam liburan Natal dan Tahun Baru mengalami lonjakan.

Dari pengamatan di lapangan, pusat perbelanjaan City Of Tomorrow (Cito) mengalami kenaikan hingga 30 persen dibandingkan hari biasanya. Nampak, pula kunjungan masyarakat ke Lenmarc mencapai 25 persen. Marcom Manager Cito, Indra Irmawan, mengatakan, ada lonjakan 1.100 pengunjung yang datang.

“Kunjungan mengalami kenaikan hingga 30 persen. Rata-rata per harinya ada sekitar 33.000 – 35.000 pengunjung di hari biasa, dan weekend hingga 40.000 pengunjung per harinya,” ujarnya. Untuk Januari hingga November, pusat perbelanjaan yang ada di Selatan Surabaya tersebut rata-rata kunjungan per hari-nya mencapai 28.000 pengunjung, dan weekend hingga 34.000 pengunjung.

Ekpansi ini, kata dia, berbarengan adanya libur Natal sehingga pihaknya disuguhi berbagai acara Natal. Misalnya, parade santa anak yang mengelilingi mall itu. “Gelaran acara itu kami bekerjasama dengan Aspringta menggelar pohon Natal tinggi 4 meter dan lebar 2 meter dari limbah yaitu klobot Jagung serta plastik bekas yang dibuat menjadi bunga,” jelasnya.

Sementara, Manager Lenmarc Mall Surabaya, Kuku F Soeharno, mengakui, pihaknya juga mengalami peningkatan pengunjung Desember ini terkait libur Natal dan tahun baru. “Kami mengalami lonjakan pengunjung hingga 35 persen untuk Desember ini. Dengan rata-rata per hari ada 3.000 pengunjung yang datang di hari normal, dan weekend mencapai 7.000 pengunjung,” tandas Kuku.

Hal itu turut didukung oleh Lenmarc dengan menggandeng VOX untuk menggelar Ferdinand Bioskop yang pertama kali di Surabaya. Dari 169 kursi pada premier selalu terisi penuh. Tak hanya itu, pihaknya menggelar live show Sesame Street mulai seminggu lalu hingga Natal dengan menyediakan 105 tenant yang ada di Lenmarc dengan diskon hingga 70 persen.

“Lonjakan pengunjung ini kami imbangi dengan berbagai acara yang bisa dinikmati pengunjung pada diliburan Natal dan tahun baru,” ujarnya. Beberapa mall lainnya di Surabaya yang mengalami tingginya lonjokan pengunjung terjadi di Tunjungan Plaza (TP) dan Pakuwon Trade Center (PTC) yang berada di pusat kota dan Surabaya Barat.

Direktur Pakuwon Group Sutandi Purnomosidi, yang mengelola TP dan PTC mengatakan sejak pertengahan Desember peningkatan pengunjung TP dan PTC meningkat 30 persen dari hari biasanya.

“Kalau dibandingkan tahun lalu, musim liburan Natal dan Tahun Baru sekarang ini meningkat 10 persen. Ini artinya tren belanja di mall meningkat,” katanya. Meningkatnya jumlah kunjungan mall pun mengerek tingkat penjualan barang para tenant didalam mall tersebut antara 20-25 persen. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan tarif dasar listrik tak mempengaruhi daya beli masyarakat karena inflasi masih terkendali. Naiknya daya beli masyarakat dan musim liburan diyakini menjadi pendorong naiknya tingkat konsumsi masyarakat.

Mall Kelas Menengah Atas

Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, melihat pusat perbelanjaan (mall) akan terus tumbuh di Surabaya. Bahkan tak hanya menengahbawah, mall kini menyasar segmen menengah atas juga akan tumbuh. Hal ini karena jumlah kelas menengah tiap tahun di Surabaya juga meningkat.

Risma mendorong pelaku usaha untuk membangun pusat-pusat perbelanjaan yang menawarkan produk-produk berkelas dunia. Ini disebabkan sebagian warga Surabaya, khususnya kelas atas atau pemilik uang banyak, untuk memenuhi gaya hidup mereka dalam berbusana masih memilih belanja ke luar negeri seperti Singapura dan Hongkong.

“Kalau bisa, pusat belanja segmen menengah atas, yang menjual brand-brand internasional itu ditambah. Biar orang Surabaya tidak belanja ke Singapura, karena di Surabaya sudah ada,” kata Risma belum lama ini saat menerima kunjungan dari delegasi pemerintah Liverpool, Inggris.

Namun untuk pusat-pusat perbelanjaan yang menyasar segmen menengahbawah, akan digarap sendiri oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya. Seperti wacana revitalisasi pasar-pasar modern. “Kami menginginkan pasar dalam negeri harus diambil. Jangan sampai seperti orang Kalimantan lebih memilih belanja ke Sabah dibanding ke Surabaya,” pinta Risma. (ton)