Madiun,(bisnissurabaya.com) – Sederetan gambar  referensi bisnis terdapat dalam buku ini. Yaitu  tentang produk olahan dari bahan kayu seperti kusen, jendela, almari, meja, kursi hingga industri gembol berupa ukiran dari akar kayu jati.

Selain itu juga makanan olahan khas Kabupaten Madiun yatu Brem [makanan camilan dari sari tape], Kripik dari berbagai buah, Gula Mangkok dari bahan tebu, Sambal Pecel dan sebagainya.

Itulah sedikit cuplikan buku yang diterbitkan  Bidang Pengelolaan Data Perencanaan, Pengendalian dan Evaluasi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah [Bappeda] Kabupaten Madiun. Buku itu diberi judul  Profil Kabupaten Madiun  2017.

Buku itu merupakan salah satu produk Sistem Informasi Pembangunan Daerah [SIPD] yang dijadikan sebagai alat tolok ukur kemajuan pembangunan di Kabupaten Madiun. Selan itu juga sebagai bahan evaluasi program-program Kegiatan Perangkat Daerah [KPD] dalam upaya mewujudkan “Kabupaten Madiun Lebih Sejahtera Tahun 2018”.

“Buku profil ini, telah memuat data dan informasi hasil capaian program kegiatan yang dihimpun dari data-data perangkat daerah. Isi buku tersebut, sebagian besar penyajiannya dalam bentuk tabel dengan ulasan singkat dan sederhana,” kata Ir. Siswi Wahyuningrum H, M.Si, Kepala Bidang (Kabid) Pengelolaan Data Perencanaan, Pengendalian dan Evaluasi Bappeda Kabupaten Madiun, Rabu (13/12).

Ia menjelaskan  buku profil ini, menjadi buku yang memuat berbagai data/informasi mengenai hasil pembangunan di  Madiun selama satu tahun. Meskipun buku profil itu disusun dengan baik, namun pihaknya  menyadari  masih terdapat kekurangan atau kesalahan.

“Untuk itu, kami mohon semua pihak memberikan bahan masukan, kritik dan sarannya. Tentunya  yang membangun dalam upaya mendapatkan data dan informasi pembangunan yang akurat, valid dan tepat waktu  sesuai dengan kebutuhan,” jelasnya.

Sedangkan pelaku usaha kreatif lainnya pengerajin batik yang berpusat di Sentra Industri Batik Desa Kenongorejo, Kecamatan Pilangkenceng. Batik khas  ini mempunyai 3 jenis batik. Seperti Batik Klasik [motif semen rono dan parang], Batik Modern [motif serat jati dan porang] dan Batik Kombinasi  perpaduan antara batik klasik dengan batik modern jenis motifnya Sidomukti.

“Sebenarnya sekitar tahun 1960-an, para pengrajin batik di kawasan ini pernah mengalami puncak kesuksesan. Saat itu, produksi batik yang dihasilkan mencapai 6.000 hingga 7.000 lembar  setiap bulannya. Tapi saat ini, produksi batik di kawasan itu mengalami kemerosotan. Bisa produksi hanya 100 hingga 300 lembar setiap bulannya,” ungkap Siswi .[ajun]