Tulungagung,(bisnissurabaya.com) – Sebagai rasa ungkapan syukur pada Tuhan YME, atas melimpahnya hasil laut, ratusan Nelayan di Pelabuhan Teluk Popoh, Desa Besole, Kecamatan Besuki, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, menggelar ritual labuh laut Semboyo. Tradisi ini dilakukan secara turun temurun dan dijaga hingga sekarang.

Nelayan warga sekitar, sangat mempercayai bahwa, labuh laut semboyo ini memiliki nilai kesakralan yang tak dapat dianggap remeh. Penting sekali. Karena tradisi ini selain sebagai bentuk wujud syukur pada Tuhan YME, sekaligus memiliki hubungan mistis dengan penguasa Kerajaan Laut Selatan. “Boleh percaya boleh tidak. Tapi sebagian orang nelayan di sini, percaya, ” ujar Sumaryanto salah satu nelayan pantai popoh.

Prosesi upacara labuh laut Semboyo ini, memang  sedikit beda dengan ritual labuh laut pada masa  pembentukan tradisi yang dilakoni nelayan sebelumnya. Waktu itu, prosesinya masih kental dengan nuansa kejawen.

Namun saat ini sebagian kegiatan mulai banyak diselipkan budaya Islam, meski secara umum masih mengikuti tradisi aslinya. “Contohnya doa. Bahasa yang digunakan bahasa Arab. Kalau jaman dulu, bahasanya Jawa kuno,” ujar Sumaryanto.

Seremoni labuh laut ini, cukup meriah. Seiring dengan datangnya ratusan warga dan wisatawan pantai Popoh.  Terutama  pada saat gunungan yang berisi aneka hasil bumi dan buah-buahan dilarung ke tengah laut. Ratusan nelayan dan warga sekitar mengikuti prosesi larung sesaji tersebut hingga ke tengah.

“Labuh laut semacam ini telah dilakukan secara turun-temurun oleh nenek-moyang kami sejak ratusan tahun silam,” tambah Sumaryanto.

Dengan labuh laut Semboyo ini, para nelayan berharap tangkapan ikan menjadi semakin melimpah. Selain itu, diberi keselamatan dan terhindar dari segala bencana yang disebabkan ganas ombak pantai selatan. (rul)