(bisnissurabaya.com) – Terdorong ingin ikut berpartisipasi dalam menyelamatkan keutuhan bangsa (NKRI) dan berperan di tengah masyarakat yang tengah mengalami perubahan, Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) membentuk Pusat Pengembangan Masyarakat dan Peradaban Islam (PPMPI).

Dunia pemikiran telah menjadi watak dasar Nahdatul Ulama (NU). Unusa sebagai bagian dari NU merasa perlu mengakomodasi dunia pemikiran NU dalam sebuah kajian. “Sekaligus merupakan ikhtiar melanjutkan kejayaan peradaban Islam maka dibentuklah PPMPI,” kata Rektor Unusa, Prof Achmad Jazidie didampingi Ketua PPMPI, Ir Wardah Alkatiri, M.A., PH.D., kepada Bisnis Surabaya, pekan lalu.

Dalam sejarah, ada satu masa di mana sekulerisme menguasai kehidupan masyarakat dan kehidupan keagamaan menjadi termarginal. Selanjutnya, masyarakat didominasi oleh tajamnya faham sekularisme, namun dari sisi spiritual mengalami kemunduran yang luar biasa.

Saat itu teknologi maju begitu pesat, namun muncul kegelisahan. Sampai akhirnya kehidupan beragama menemukan momentumnya kembali, hingga muncul ekstrimisme beragama.

“Jika digambarkan melalui ayunan sebuah bandul, begitu bergairahnya kehidupan beragama hingga muncul ekstrimisme beragama di semua agama,” lanjutnya.

Prof Jazidie menambahkan, bahwa fenomena beragama seperti itu, bagi Unusa merupakan sesuatu yang perlu direspon dalam ranah pemikiran untuk menciptakan kedamaian dalam hidup yang plural ini. Demikian diungkapkan Rektor Unusa Prof Dr lr Achmad Jazidie M.Eng, dalam perbincangan dengan beberapa media di Kampus Unusa, Kamis (14/12) siang.

“Sebagai kampus menggunakan tag line ’rahmatan lil alamin’ kami terpanggil untuk membentuk pusat kajian ini. Tidak hanya sebatas pada menggelar dan mengadakan seminar tapi lebih memberikan pemikiran strategis Iewat kajian-kajian,” katanya.

Pusat kajian ini, kata Rektor menambahkan, tidak pada persoalan politik sosial yang selama ini telah banyak pusat kajian serupa, tapi kami akan lebih mementingkan pendekatan agama dan psikologis medis sebagai Iatar belakang kajian, karena Unusa memang fokus pada pengembangan bidang keilmuan kesehatan dan agama.

“Berdirinya PPMPI ini merupakan respons Unusa terhadap situasi saat ini, permasalahan agama sangat sensitif jika sudah terjadi, terlebih konflik dan kekerasan atas nama agama yang semakin meningkat di era ini merupakan persoalan kompleks yang tidak bisa ’dipaksa’ menjadi masalah ke-agama-an atau persoalan teologis semata. Unusa akan memberikan pandangan dan pendekatan dari sisi yang lain, yaitu dari sisi agama dan psikolgis – medis,” katanya.

Beberapa topik kajian telah disiapkan antara lain terkait dengan anxiety (termasuk existential anxiety dan obsessive compulsive disorder 0CD), cognitive dissonance, depresi, giftedness, dan psikologi komunitas serta teori identitas, teori social movement, dan teori komunitas, yang terkait dengan cabang ilmu sosiologis.

Menandai dibentuknya pusat kajian sekaligus sebagai bagian dari refleksi akhir tahun 2017, akan diselenggarakan seminar dengan “Mengkaji ke-Ekstrim-an Beragama (religious extremism) dalam Perspektif Psikologi dan Sosiologi” dengan menghadirkan nara sumber antara lain Prof. Dr. Nasaruddin Umar, M.A, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Imam besar Masjid Istiqlal; Muhammad Najib Azca, Ph.D. dari Center for Security and Peace Studies, Fakuitas llmu Sosiai dan ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada, dr. Hafid Algristian, Sp.KJ. dari Kedokteran Jiwa, Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya.

Dipilihnya tema tersebut, kata rektor, karena secara umum, terdapat dua aliran besar dalam ilmu pengetahuan yang mempersoalkan dan mempelajari ‘faktor penentu’ (determinative factors) terkait dengan penyebab munculnya suatu pemikiran pada manusia, yaitu faktor sosial dan individual.

“Goalnya untuk memperkaya pengetahuan, dan bermanfaat bagi umat manusia supaya terjamin ketentraman kerukunan,” pungkas rektor. (lely)