UKM Sudah Dilanda e-Commerce

111

(bisnissurabaya.com) – MASIH berkutat bagaimana mengelola wujud Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dalam kancah dunia perdagangan yang disibukkan persaingan ketat modernisasi sekarang, kini sudah diburu dengan penggunaan sarana baru dalam pemasaran. Yakni melalui e-commerce. Malahan pemanfaatan media internet tersebut secara resmi dengan sebutan “Hari Belanja Online Nasional” alias Harbolnas pada 12 Desember lalu.

Internet merupakan sarana dari teknologi elektronik yang merubah budaya ‘biar lambat asal selamat’ bawaan dari teknologi mekanik, menjadi budaya ‘praktis, terpadu, cepat, tepat dan aman’. Calon pembeli produk dari sesuatu perusahaan cukup angkat telepon-genggamnya (HP), sentuh nomor atau nama perusahaan yang dimaksud, lalu bisa menanyakan mengenai produk dan harga yang dijualnya. Paling lambat tiga hari kemudian barang itu sudah sampai di rumah dan dia membayar harga produk itu. Kalaulah tidak bisa mengantar sendiri seperti rumah-rumah makan, maka bisa dengan ‘menyewa’ Ojek atau lainnya untuk mengambil makanan yang dipesannya. Pendek kata, tak perlu datang sendiri ke perusahaan atau toko yang menjual produk tersebut. Tak peduli di kotanya atau di kota yang jauh letaknya. Bukannya karena malas untuk bepergian ke tempat perusahaan/toko itu, akan tetapi banyak penyebabnya, seperti keterbatasan waktu untuk berkunjung karena kesibukan kerja atau di rumah, jalanan yang macet bikin pusing, mau praktis: kalau bisa pesan dan dikirimkan, mengapa harus datang sendiri?

Menteri Komunikasi & Informatika (Kominfo), Rudiantara, mengimbau masyarakat (pembeli dan pemain e-commerce) untuk mewaspadai pelaku-pelaku yang ‘nebeng’ yang biasanya dilakukan orang-orang yang tak bertanggung jawab menumpang pada euphoria belanja online itu. “Karena banyak yang harus dirapikan manajemennya.” katanya (11/12). Dikatakannya, bahwa para pelaku kriminal itu memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan sesuatu dalam momen Harbolnas.

Menurut sejarahnya, belanja lewat on-line di negara kita dirintis pada 2012 atas inisatif perusahaan-perusahaan seperti Lazada, Zalora, Blanja, PinkEmma, Berrybenka dan Bukalapak. Kini sudah terdapat lebih dari 255 e-commerce yang berparitispasi dengan fokus untuk mendorong UKM menuju pemain e-commerce di Indonesia.

Bagi usaha-usha UKM yang jumlahnya ribuan yang belum atau tidak mengikuti pola pemasaran e-commerce itu, karena merasa masih banyak produknya yang “kurang patut” untuk ditawarkan dengan ditayangkan lewat internet. Atau tidak tahu, bagaimana caranya untuk menayangkannya.

Di sitnilah titik krusial yang harus ditangani oleh organisasi-organisasi UKM atau KADIN dan juga harus didukung oleh Dinas Perdagangan dan Dinas Kominfo setempat. Yakni, mengenalkan budaya internet dengan menggunakan e-commerce dan bagaimana mengoperasikan computer mereka untuk keperluan tersebut. Inovasi macam itu termasuk sebagai inovasi-pembangunan kita pada sektor perekonomian dan khususnya perdagangan demi masyarakat. Bentuk pelatihan atau penataran yang terarah untuk itu perlu diadakan dengan pola praktis bagi usaha-usaha UKM yang mau didorong untuk maju.

Mengapa harus ikut-ikutan pemasaran di awang-awang itu? Zamannya sudah begini ini. Zaman era globalisasi ataupun budaya teknologi komunikasi elektronika memang merubah pola pikir kita apabila ingin ikut maju. Ini bukan ungkapan orang Jawa: “Iki zaman edan, yen ora melu edan ora keduman” (Ini bukan zaman gila, kalau tidak ikut gila-gilaan tidak akan kebagian). Bukan begitu. Realita yang dibawakan oleh perkembangan era globalisasi sejalan dengan realita kemajuan teknologi, menjadikan kita harus mengikutinya, meskipun pijakan kaki tetap pada budaya bangsa kita.