(bisnissurabaya.com) – Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 4 Jawa Timur melakukan Evaluasi Kinerja BPR Semester II Tahun 2017 bertempat di Isyana Ballroom Hotel Bumi, Surabaya. Pertemuan tersebut dihadiri Direksi dan Komisaris dari 115 BPR di bawah pengawasan Kantor Regional 4 Jawa Timur.

Evaluasi kinerja ini merupakan salah satu wujud konkrit concern OJK terhadap perkembangan industri BPR di Provinsi Jawa Timur pada umumnya dan di wilayah kerja Kantor OJK Regional 4 Jawa Timur pada khususnya.

Pertemuan tahunan kali ini mengangkat tema ‘Penguatan Strategi Industri BPR Dalam Era Digitalisasi Keuangan’. Dalam kegiatan evaluasi ini, OJK memberikan pemaparan mengenai perkembangan kinerja BPR sampai dengan triwulan III 2017, digitalisasi keuangan, serta isu-isu terkini yang terkait dengan aspek regulasi maupun dinamika industri perbankan yang perlu diperhatikan oleh Pemegang Saham dan Pengurus BPR.

Kepala OJK Regional 4 Jawa Timur, Heru Cahyono mengatakan, di tengah berbagai dinamika perekonomian global masih mempengaruhi perkembangan perekonomian Indonesia ke depan, ekonomi Jawa Timur pada triwulan III 2017 masih menunjukan perkembangan yang menggembirakan, yaitu tumbuh sebesar 5,16 persen atau lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 4,93 persen.

Ditambahakan, Heru, Dana Pihak Ketiga (DPK) dan kredit perbankan di Jawa Timur masing-masing tercatat tumbuh sebesar 12,86 persen dan 8,61 persen. “Hal yang patut kita cermati, diantara kinerja positif perbankan Jawa Timur, pertumbuhan aset BPR di Jawa Timur masih relatif rendah yakni sebesar 2,73 persen dengan petumbuhan DPK sebesar 10,27 persen dan pertumbuhan kredit/pembiayaan sebesar 6,70 persen,” imbuh Heru.

Meskipun terdapat peningkatan penyaluran kredit, potensi risiko kredit BPR masih cukup tinggi mengingat rasio NPL yang melebihi benchmark 5 persen yaitu sebesar 8,09 persen.

Akan itu, OJK berharap pengurus BPR senantiasa memantau secara ketat perkembangan kualitas kredit pembiayaan yang disalurkan dan khusus untuk BPR yang rasio NPL nya telah lebih dari 5% harus menyusun langkah-langkah  penyelesaian dalam sebuah rencana tindak (action plan) yang realistis.

Selain tekanan risiko kredit, tantangan yang dihadapi oleh industri perbankan juga berasal dari pengembangan teknologi informasi di industri jasa keuangan khususnya pada model alternatif pembiayaan baru yang ditawarkan oleh perusahaan-perusahaan
berbasis teknologi informasi seperti FinTech.

“Karena tantangan yang semakin besar, ke depan BPR harus memiliki bekal yang lebih baik. Permodalan yang kuat dan tata kelola yang baik menjadi kunci penting menghadapi kompetisi itu,” pungkas Heru.(ton)