Kemas Minuman Tradisional Kualitas Premium

159

(bisnissurabaya.com) – Alami lebih sehat dan nikmat. Sinom, temulawak, beras kencur, kunyit asam adalah minuman herbal yang mudah ditemukan di masyarakat Pulau Jawa, khususnya di daerah Jawa Timur (Jatim) dan Jawa Tengah (Jateng). Selain rasanya enak dan menyehatkan, harganyapun terjangkau. Karena itu minuman herbal ini bisa diterima berbagai kalangan.

Bermula dari keinginan untuk mengangkat derajat sinom dan temulawak yang semula hanya dikenal di kalangan masyarakat bawah, maka Bachtiar Rachman Edy, membuat minuman sinom dengan menggunakan kemasan botol premium. Dia berharap agar produk kearifan lokal tersebut keberadaannya dapat sejajar dengan minuman lain, baik di kancah nasional maupun internasional.

Usaha minuman sinom yang diberi nama Le Sinome, ia rintis bersama seorang sahabat, dengan menggunakan resep warisan dari nenek sahabatnya. Minuman tersebut tidak menggunakan bahan pengawet dan pemanis, sehingga rasanya enak menyegarkan. Karena masa kadaluarsa hanya tiga hari saja, maka setiap tiga hari sekali dia selalu menarik produk dari outlet – outlet untuk diganti baru. Guna mendongkrak penjualan, selain melakukan penjualan di outlet, pria 34 tahun ini juga melakukan  promosi melalui media online seperti whatssap, facebook , dan instagram.

“Sebenarnya bukan produk pabrikan yang menjadi kompetitor, tetapi produk sejenis yang dihasilkan oleh sesama UKM itu yang menjadi kompetitor terberat,” terang suami dari Pita tersebut. Suka duka yang paling ia rasakan, ialah ketika harus mengambil keputusan merubah tagline produknya sampai tiga kali. Dari herbal, health, heritage  menjadi healthty, natural, fresh, sampai yang terakhir segernya beneran .

Seiring dengan semakin berkembangnya kesadaran masyarakat untuk mengembangkan pola hidup sehat , maka kembali kepada makanan dan minuman herbal menjadi pilihan. Outlet dan kafe yang menjual minuman herbal seperti Kafe Suwe Ora Jamu banyak didatangi pembeli. Keberadaan produk Le Sinome pun juga mengalami pertumbuhan yang pesat.

Produk yang dibanderol Rp 8.000,- itu mampu terjual sampai 300 botol per bulan. Bachtiar juga optimis bahwa bisnisnya ini tetap prospek dan survive walaupun banyak pesaing serupa. (nanang)