Wiwik Sulistyoningsih, Korban Kekerasan yang Berhasil jadi PSM

61

(bisnissurabaya.com) – Wanita pengusaha korban kekerasan. Momentum hari relawan nasional 5 Desember dan Hari Kesetiakawanan Sosial 20 Desember saat yang pas untuk mengingat kembali kebangkitan seorang wanita rawan sosial ekonomi (WRSE) yang merupakan bagian dari penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS). Sehingga berubah menjadi seorang pekerja sosial masyarakat (PSM) yang merupakan bagian dari potensi sumber kesejahteraan sosial (PSKS).

Adalah Wiwik Sulistyoningsih, seorang aparat desa di Desa Karangsemi Kecamatan Gondang Kabupaten Nganjuk sejak 2005 juga sebagai PSM yang aktif menjalankan tugas pendampingan terhadap perempuan korban kekerasan. “Saya adalah korban kekerasan, dimana saat itu saya tak hanya mengalami penderitaan fisik yang berat seperti dipukul kepala dengan asbak, ataupun disiram dengan minyak tanah.

Tetapi juga mengalami tekanan psikis yang berat dari suami. Pendamping hidupnya selain bertemperamen kasar dan sering memukul, dia juga seorang pemabuk. Karena itu dirinya selalu berdoa jangan ada lagi wanita yang mengalami penderitaan seperti saya,’’ kata Wiwik Sulistyoningsih, kepada Bisnis Surabaya pekan lalu.

Penderitaan Wiwik, semakin terasa berat saat dia memutuskan untuk mengguggat cerai suaminya pada 2008 karena dia dan ketiga anaknya diusir dari rumah keluarga suami yang selama ini ditempatinya. Dan Wiwik harus berpindah-pindah tempat. Mulai dari tinggal di balai desa hingga tidur di gudang padi yang hanya beralaskan tikar.

Wiwik mengaku tidak mampu untuk menyewa rumah karena penghasilannya sebagai aparat desa saat itu hanya Rp 90.000 per bulan. Hingga akhirnya, Wiwik harus menjalani perawatan dan rehabilitasi medis dan psikis di Women Crisis Centre Nganjuk karena dia mengalami trauma yang luar biasa. Dia seringkali ketakutan ketika melihat laki-laki yang berpostur tinggi besar, melihat orang banyak, melihat sabit, dan juga melihat minuman keras.

“Walau sedih dan pedih semua saya jalani dengan hati yang ikhlas, hingga sampai satu waktu saya dinyatakan telah pulih dari trauma. Saya mulai kembali menjalankan aktifitas sebagai pelaksana tata usaha dan umum di desa dan juga aktif sebagai tenaga paralegal Women Crisis Centre serta aktif  di PSM yang banyak memberi dampingan psikologi kepada wanita rawan sosial ekonomi (WRSE),’’ tambah Wiwik, wanita 41 tahun kelahiran 13 Maret ini.

Pada 2017  Wiwik mengikuti lomba pekerja sosial masyarakat (PSM) berprestasi, dan berhasil memenangkan lomba tingkat kabupaten, tingkat provinsi, bahkan tingkat nasional. Pertanyaan juri terkait berapa besar manfaat yang dirasakan dari kegiatan pendampingan kepada WRSE lansia terlantar, rumah tidak layak huni berhasil dia jawab dengan memuaskan.

“Seumur hidup saya tak pernah bermimpi bisa diundang ke istana negara oleh Presiden Jokowi ataupun  hadir menyaksikan rapat paripurna di gedung DPR/MPR. Tapi, berkat usaha pendampingan yang dilakukan secara ikhlas itu akhirnya yang tidak mungkin akhirnya terjadi. Yakni, diundang ke istana persiden. Tuhan menjadikan segala sesuatu indah pada waktunya,’’ tambah ibu dari Adinda Tri Rulistia, ini.

Sebagai orang tua Wiwik menempatkan anak-anaknya pada prioritas utama dan kebahagiaannya sebagai cita-cita yang harus dia perjuangkan dengan sungguh- sungguh. Hal ini dikarenakan dia pernah merasakan betapa susahnya jadi anak yatim piatu. Sehingga dia sering menganggap bahwa setiap orang lanjut usia adalah orang tuanya sendiri

Wiwik, kini tak hanya berhasil dibidang sosial, tetapi dia juga berhasil dibidang ekonomi. Usaha ekonomi yang telah dirintisnya seperti salon, percetakan, ternak kambing, juga sawah mengalami kemajuan dan menghasilkan keuntungan yang lumayan. Sehingga dapat diandalkan dalam menopang kebutuhan hidupnya. Bahkan, Wiwik sekarang dikenal dengan sebutan boss percetakan. (nanang sutrisno)