Tulungagung,(bisnissurabaya.com) – Secara umum, bentuk bangunan rumahnya sederhana. Terbuat dari batako yang belum dipelur, sehingga masih terlihat sedikit kasar. Maklum, karena proses pembangunannya bertahap. Bahkan, sebagian pintu rumahnya terbuat dari anyaman bambu. Diteras rumahnya, dipenuhi limba kayu dan mesin bubut.

Itulah gambaran singkat rumah yang dihuni Suko Wardoyo. Lokasinta  berada di Dusun Gading, Desa Kedoyo, Kecamatan Sendang, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur.

Di rumah yang sederhana inilah, Suko tiap hari disibukkan dengan kegiatannya membuat boneka menari. Maklum, jumlah pesanannya lumayan banyak. Mulai dari Tulungagung sendiri, Blitar, Trenggalek, Kediri, dan Kertosono. Bahkan, kota-kota besar seperti Surabaya, Yogjakarta, dan Bali mulai ada. Meski jumlah pesanannya terbatas. “Alhamdulillah, kalau order ada saja. Yang penting telaten,” ujar Suko dengan santai.

Bagaimana awal ide pembuatan boneka menari ini? Karena sebelumnya ia berprofesi sebagai penjual sayur keliling. Lelaki berkumis tipis ini sedikit tersenyum. Kemudian mulai menceritakan pengalaman hidupnya. Dulu, sebelum menjadi pengrajin boneka menari, Suko dikenal sebagai pedagang sayur keliling kampung. Mulai dari bayam, kangkung, sawi, kubis, dan tetek bengek lainnya.

Di lain sisi, Suko memiliki hobi musik tradisional. Khususnya langen tayub. Tak heran, jika ada orang hajatan nanggap campursari atau langen tayub, ia selalu hadiri. Karena memang suka. Bahkan, Suko juga aktif reques lagi ke sebuah stasiun radio yang kebetulan memutar program lagi-lagu jawa. “ Kalau dengan lagu Jawa, capek-capek rasanya hilang,” aku Suko.

Dari kesukaan mendengarkan langen tayub itulah, kemudian Suko terinsnpirasi membuat boneka yang dapat menari. Saat itulah pula Suko mencari bahan. Mulai dari kayu bekas, paralon, dan accu.

Pertama yang dilakukan adalah membentuk kayu. Dengan menggunakan gergaji, balok kayu dipotong-potong sesuai ukuran. Kemudian dengan menggunakan pahat dan pisau kecil dibentuk mirip orang-orangan. Satu sinden laki-laki dan satunya lagi perenmpuan.

Agar tampak seperti orang betulan, boneka tersebut diwarna. Setelah beres, baru membuat roda penggeraknya. Dengan memanfaatkan paralon yang dipipil, sehingga membentuk bundar. Sebagai roda penggerak memanfaatkan tali ban bekas yang dikaitkan antara roda dan boneka.

Dan jangan lupa ditambah baterai 12 volt sebagai sumber listriknya. “Mudah koq. Yang penting telaten,” ujar bapak dua anak ini.

Boneka menari buatan Suko ini awalnya tidak dijual. Boneka ini dinikmati sebagai hiburan pribadinya. Tak lama kemudian, ada satu dua orang tetangganya yang pesan minta dibuatkan. Tapi lama kelamaan, pesanan justru terus berdatangan. “Ya itu lho, datangnya rezeki tidak disangka-sangka. Gini-gini kalau perbulan jutaan rupiah ya dapat,” ujar Suko tanpa menyebutkan nominalnya. (rul)