Surabaya,(bisnissurabaya.com)-Diprediksi masih stagnan dan melambatnya perekonomian Indonesia di 2018 akan menjadi beban sendiri bagi masyarakat dan pelaku ekonomi.

Mereka akan menimbang-imbang dengan kondisi itu agar tidak terperangkap bahkan sekedar bertahan ditengah laju perekonomian yang diprediksi masih seret tersebut.

Wajar, bila saat ini kalangan ekonomi pun masih pesimis dengan laju pertumbuhan ekonomi tahun 2018 diperkirakan masih akan seret. Pemerintah pun diprediksi bakal kesulitan mencapai target pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 5 persen- 5,2 persen. Perkiraan tersebut di bawah penetapan target dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2018 sebesar 5,4 persen.

Ketua Stie Perbanas Surabaya DR Lutfi, SE, M.Fin menilai, laju ekonomi tahun depan masih sama dengan tahun ini bahkan terjadi cenderung turun.

Menurutnya, Masyarakat perlu mengerem pembelian barang konsumsi sekunder seperti mobil dan rumah mewah yang bukan kebutuhan pokok.

“Saat ini memang mudah diperoleh dengan pinjaman bank dengan bunga agak murah, namun ketika inflasi naik dan 7 days repo naik maka hanya tinggal tunggu waktu akan ada penyesuaian kenaikan suku bunga pinjaman,” terang Lutfi ini.

ilustrasi/ist

“Industri selain produsen barang kebutuhan pokok sebaiknya menunda untuk investasi barang modal,” imbuhnya.

Hal itu sebut dia, masyarakat masih akan menahan belanja. Padahal, konsumsi rumah tangga adalah penyumbang terbesar produk domestik bruto (PDB), yaitu di atas 50 persen.

Masyarakat diperkirakan masih akan tetap memilih menyimpan uangnya daripada berbelanja.Korporasi enggan ekspansi sehingga kredit perbankan juga akan tertahan.” Masyarakat tentu akan melihat kondisi pasar, bila dirasa tak beruntung. Tentunya akan menyimpan uangnya dan menahan untuk investasi pasar modal,” terangnya.

Dikatakan Lutfi, harapan pendorong laju ekonomi adalah belanja pemerintah. Namun, pemerintah juga bakal kesulitan menggenjot belanja.Hal ini diperparah dengan target pajak yang tidak tercapai sehingga pemerintah akan mengurangi belanja rutin (mengurangi konsumsi nasional) dan meningkat utang luar negeri berdampak akan menekan nilai tukar rupiah dan bisa memaksa suku bunga naik.

“Kondisi tidak seimbang dengan penerimaan pajak yang terbatas dan ruang utang luar negeri semakin meluas,” pungkas Lutfi.(ton)