GENERASI MILENIAL DAN TANTANGAN MENGELOLA KEUANGAN

382

(bisnissurabaya.com) – Dari berbagai sumber, disebutkan bahwa istilah “Generasi Milenial” pertama kali dicetuskan oleh Boston Consulting Group (BCG) bersama University of Berkley tahun 2011 dalam risetnya berjudul American Milenial: Deciphering the Enigma Generation. Mengutip beberapa penjelasan, Generasi Milenial atau Gen Y adalah mereka yang lahir pada tahun 80-an hingga tahun 2000. Ini berarti mereka yang berada di rentang usia 17 hingga 37 di tahun ini bisa dikatakan sebagai generasi milenial. Berbeda dengan generasi pendahulunya, atau yang biasa dikenal dengan Generasi X, generasi milenial dianggap spesial, apalagi dalam hal yang berkaitan dengan teknologi. Bisa dikatakan karena generasi ini lahir saat teknologi seperti handphone, TV berwarna, dan bahkan internet diperkenalkan.

Pembahasan terkait generasi milenial sedang hangat diperbincangkan belakangan. Selain karena generasi ini relatif masih muda dan produktif secara usia, milenial digadang-gadang memegang peranan penting selama 10 hingga 20 tahun mendatang. Di Indonesia sendiri dari jumlah 255 juta penduduk yang telah tercatat, 81 juta diantaranya merupakan generasi milenial. Diprediksi pada 2020 Indonesia akan mengalami bonus demografi dimana penduduk Indonesia didominasi usia kerja, yakni 15-64 tahun, rentang usia para milenial.

Sayangnya, meski termasuk dalam usia produktif,  generasi milenial kelas menengah di kota besar kerap dicitrakan negatif. Alih-alih familiar dengan teknologi, banyak yang beranggapan generasi milenial ini justru sangat tergantung pada penggunaan teknologi. Belum lagi budaya konsumtif untuk meraih status sosial juga erat dilekatkan padanya. Harian Bisnis Indonesia menyebutkan data dari Bank of America Merril Lycnh yang merilis riset perilaku generasi milenial terhadap uang yang dimilikinya. Generasi Y ini lebih banyak menghabiskan uang yang mereka miliki di restoran dan menyalurkan hobi (Editorial Harian Bisnis Indonesia, 8 September 2017).

Survei Acorn tentang Money Matters menyebutkan ±800 orang milenial atau 41% dari 2000 milenial yang diwawancara mengaku lebih banyak minum kopi di pagi hari dibanding menyisihkan dana pensiun dalam menghabiskan uang mereka. Hal ini mungkin menjawab mengapa waralaba berbagai merk kopi menjamur belakangan ini, karena demand yang begitu besar. Coba bayangkan, jika harga per cup kopi di cafe Rp 50.000 – Rp 75.000 maka per minggu mereka bisa menghabiskan Rp 350.000 – Rp 525.000 (termasuk ngopi saat akhir pekan). Artinya secara rata-rata mereka menghabiskan Rp 1,4 juta – Rp 2,1 juta per bulan untuk nongkrong, bayangkan jika nominal tersebut dialihkan untuk tabungan atau investasi.

Dari keterangan tersebut nampak bahwa generasi milenial kelas menengah urban memiliki daya beli yang kuat. Riset Accenture menyebutkan 10 karakter unik konsumen yang berasal dari para milenial yang diantaranya menyebut generasi milenial cenderung memiliki rasa ingin tahu yang lebih besar terhadap sebuah produk dan memiliki tingkat kesadaran yang tinggi dalam berbelanja. Kegiatan belanja juga dianggap sebagai sebuah misi yang memiliki nilai dan keyakinan. Selain dua hal tersebut, konsumen milenial  menengah urban cenderung menyederhanakan dan menyimpan waktu agar bisa fokus pada apa yang paling dianggap penting. Sehingga, kegiatan belanja harus cepat dan mudah. Tak heran, hal ini dikarenakan mereka adalah early adopter dari teknologi terbaru yang terbiasa berbelanja melalui sosial media maupun belanja melalui aplikasi e-commerce.

Tren ini masih akan terus tumbuh dan diprediksikan pada tahun 2020, populasi pengguna sosial media dan transaksi belanja e-commerce di Indonesia akan mencapai USD 130 miliar yang membuat generasi milenial adalah pangsa pasar terbesar pelaku usaha. Tak heran, jika banyak pelaku usaha yang menginvestasikan dana triliunan rupiah untuk memberikan kemudahan  pengalaman para milenial berbelanjaInilah mengapa aplikasi mobile shopping terus tumbuh subur di Indonesia.

Sebuah lembaga riset indepeden, Provetic mengadakan survey berbasis media sosial yang digelar mulai 1 Desember 2015 hingga Januari 2016. Survey yang fokus pada perilaku generasi milenial dan karakter mereka dalam keuangan menyebut bahwa tujuan generasi milenial menabung tidak hanya untuk hal-hal besar seperti membeli rumah. Sejumlah 41% dari 7.809 perbincangan di sosial media para milenial ternyata menyebut bahwa alasan mereka menabung adalah untuk membeli tiket konser musisi yang diidolakan dan untuk bepergian (travelling). Fakta ini menunjukkan bahwa generasi milenial masih mementingkan hal-hal yang berkaitan dengan eksistensi diri dan belum menjadikan perencanaan keuangan yang matang sebagai bekal di masa depan. Hal tersebut juga  tercermin dari data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang menyebut bahwa sejak tahun 2013 rasio Marginal Prospensity to Save (MPS) berada di bawah rasio Marginal Prospensity to Consume (MPC). Hal ini menandakan bahwa sejak beberapa tahun lalu, masyarakat lebih banyak menghabiskan pendapatannya untuk kegiatan belanja dibandingkan untuk menabung.

Karakter generasi milenial yang impulsif dalam berbelanja serta kurang memiliki perencanaan keuangan yang baik, tentu harus diberikan solusi. Hal ini menjadi krusial, mengingat populasi generasi milenial akan menjadi yang terbesar di Indonesia pada tahun 2020. Menurut Yoris Sebastian, Founder OMG Consulting, pada tahun 2020, jumlah usia produktif melonjak hingga 50%-60%, dimana saat ini jumlah usia produktif 15-35 tahun sudah mencapai 40% dari total populasi. Maka sudah barang tentu, di tahun-tahun mendatang, satu generasi muda sangat mepengaruhi perkembangan ekonomi. Milineal menentukan mau dibawa ke mana arah perekonomian Indonesia pada lima tahun mendatang.

Sehingga budaya konsumtif generasi milenial harus pula diimbangi dengan pengaturan dan perencanaan keuangan yang tepat agar produktivitas generasi milenial tidak terganggu namun justru meningkat dan memberikan dampak positif. Dikutip dari riset yang dilakukan oleh Majalah Femina, disebutkan bahwa 50% dari 693 orang milenial yang disurvey mengaku masih menjadikan tabungan konvesional sebagai tools utuk menyimpan uang. Padahal, jika tujuannya adalah untuk investasi jangka panjang, menabung saja tidak memberikan return yang tinggi karena bunga yang diberikan tidak sebesar biaya administrasi sehingga pada dasarnya tidak menambah pundi-pundi uang yang dimiliki. Namun, sisa responden sebanyak 25% mengaku sudah mulai berinvestasi, dengan logam mulia (8%), deposito (6%), properti (4%), reksa dana (4%), dan saham (3%). Alih-alih menghabiskan pendapatannya untuk berbelanja, di usia 20-30 tahun, para milenial sudah harus menetapkan tujuan menabung. Selain karena faktor usia, pada fase tersebut dapat dianggap kemapanan secara karir dan finansial sudah mulai dirintis. Oleh karena itu, sudah seharusnya generasi milenial memiliki rencana keuangan jangka pendek maupun jangka panjang dengan menabung dan berinvestasi. Beberapa perencana keuangan bahkan merekomendasikan bahwa 20% dari penghasilan tiap bulan yang didapat, harus dialokasikan untuk kebutuhan investasi.

Meski identik dengan image konsumtif, ternyata jika dibanding dengan generasi sebelumnya,  kaum milenial cenderung memiliki keinginan dan keberanian yang lebih dalam berinvestasi. Dilansir dari laman okezone.com, sebanyak 39% milenial sangat tertarik mengambil investasi berisiko untuk menjamin kondisi finansial mereka stabil, sementara keberanian Generasi X (33%) dan Baby Boomers (22%). Untuk mewujudkan keinginan tersebut para milenial dapat memulainya dengan mengetahui tujuan awal berinvestasi melalui berbagai sumber. Di era keterbukaan informasi seperti saat ini, para milenial dapat mengikuti perkembangan dunia investasi melalui koran, internet, atau bergabung pada komunitas investor muda. Tak sedikit pula forum yang saat ini tengah gencar mengajak kaum muda berinvestasi. Selain itu sebagai generasi yang melek teknologi, tentunya para milenial bisa memanfaatkan berbagai aplikasi berbasis Teknologi Informasi untuk mempermudah mereka melakukan perencanaan keuangan. Berbagai start up yang ada memiliki fungsi yang berbeda mulai dari konsultan keuangan pribadi hingga penyedia jasa pinjaman secara online.

Segala kemudahan yang tersedia tersebut sejatinya adalah alat bantu untuk mempermudah perencanaan keuangan. Yang terpenting dari semuanya adalah komitmen untuk mulai menyisihkan pendapatan untuk ditabung atau investasi dibanding menghamburkannya demi secangkir kopi.