Surabaya,(bisnissurabaya.com)-Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2018 diprediksi masih melambat bahkan kecenderungan merosot.

Salah satu faktor merosotnya perekonomian itu disebabkan daya beli masyarakat masih akan lesu di tahun depan adanya sentimen negatif di pasar tenaga kerja dan sejumlah faktor lainnya, yang diprediksi pada akhirnya akan menggerus daya beli masyarakat.

Ditambah lagi dengan rencana kenaikan tarif dasar listri (TDL) dan bahan bakar minyak (BBM) karena isu krisis Yerussalem dan pembangunan infrastruktur belum dapat dirasakan dalam jangka pendek, baru 2 (dua) sd 3 (tiga) tahun ke depan masyarakat bisa menikmatinya. Salah satu faktor yang menjadi pemicu menurunkan daya masyarakat yang berdampak pada melemahnya pertumbuhan ekonomi mendatang.

Ekonom Stieperbanas Surabaya, DR Lutfi, SE, M.Fin mengatakan perekonomian Indonesia di 2018 akan stagnan bahkan kecenderungan menurut, daya beli masyarakat dan isu Yerussalem serta rencana kenaikan TDL, BBM dan tarif Kereta Api salah satu penyebab lesunya perekonomian pada tahun depan.

Dari sisi pemerintah, lanjut Lutfi, hal ini diperparah dengan target pajak yang tidak tercapai sehingga pemerintah akan mengurangi belanja rutin (mengurangi konsumsi nasional) dan meningkat utang luar negeri selanjutnya akan menekan nilai tukar rupiah dan bisa memaksa suku bunga akan naik.

“Itu semua akan menekan pertumbuhan ekonomi di 2018 nanti,” katanya

Tentunya, untuk dunia industri memang sangat sulit karena menghadapi tekanan UMR, suku bunga, daya beli turun, dan bagi importir tekanan melemahnya nilai tukar. Praktis, akan kondisi tersebut Ketua Stieperbanas Surabaya itu mengingatkan masyarakat agar bijak saat mengambil keputusan dalam berinvestasi maupun membeli produk sekunder seperti mobil dan rumah mewah yang bukan merupakan kebutuhan pokok.

Sehingga bagi pelaku ekonomi Industri seperti tekstil, baja, keramik dan hotel akan mengindari itu. “Tentunya diikuti industri selain produsen barang kebutuhan pokok sebaiknya menunda investasi barang modal,” jelas Lutfi ini kepada bisnissurabaya.com.(ton)