Blitar,(bisnissurabaya.com) – Hampir semua jenis peternak di Kabupaten Blitar, Jawa Timur boleh dibilang sukses. Mulai dari peternak sapi, kambing, ayam, puyuh, bebek, dan banyak lainnya. Semuanya dapat berkembang biak cukup baik. Termasuk ternak ulat Hongkong.

Hampir setiap desa di Kecamatan, wilayah Kabupaten Blitar, minim ada salah satu warganya yang menekuni bisnis ini. Sebab, Ulat Hongkong merupakan salah satu upaya potensial untuk dikembangkan menjadi usaha peternakan rakyat. Selain karena cara ternaknya mudah, peluang bisnis yang cukup menjanjikan. Mengingat pangsa pasarnya sendiri sangat kondusif di Indonesia.

Bisnis Surabaya mencoba datang di  salah satu perternak ulat Hongkong yang ada di Desa Satriyan, Kecamatan Kanigoro, Selasa (28/11). Namanya, Hadi Rumpoko, yang biasa dipanggil Hadi.  Setiba di rumahnya, lelaki tinggi besar ini terlihat sibuk memberikan pakan pada ulat Hongkong miliknya.

Tahu akan kehadiran Bisnis Surabaya yang akan meliput usahanya, lelaki ini berusaha menyambutnya. Saat itulah Hadi membeberkan  cara beternak ulat Hongkong dari awal hingga memasuki panen. “Maaf ya, Mas. Saya sambi sebentar, Nanggung tinggal sedikit,” terangnya sambil menaburkan rajangan buah pepaya mentah sebagai pakan ulat.

Menurut Hadi, ulat Hongkong sebenarnya merupakan larva dari serangga yang bernama Latin Tenebrio molitor. Serangga ini merupakan hama pada produk biji-bijian atau serealia. Di Indonesia, ulat Hongkong dimanfaatkan sebagai pakan burung dan pakan ikan.

Dengan meningkatknya bisnis ikan hias dan bisnis burung, akhir-akhir ini kebutuhan terhadap ulat Hongkong juga meningkat. “Kalau pasar jangan khawatir, masih terbuka lebar,” beber Hadi.

Masalah harga, masih kata Hadi, memang ada naik turunnya. Dan saat ini, harga ulat Hongkong berkisaran Rp 16.000, – per kilo. Harga segitu Hadi mengaku masih untung. Apalagi harga mencapai Rp 30. 000,- per kilo. Untungnya lumayan besar. Bisa belasan jutaan per bulan. “Kalau digeluti untungnya lumayan, koq. Nggak bakal rugi,” terangnya.

Lantas, bagaimana cara ternak ulat Hongkong ini? Hadi menjelaskan, pada dasarnya ada empat hal dasar yang perlu disediakan. Mulai pembuatan kandang, media pemeliharaan, bibit, dan pakan. Kandang ulat Hongkong dapat dibuat menggunakan triplek yang ukurannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Kotak dari triplek ini kemudian dibuatkan rak kayu yang disusun bertingkat didalamnya dengan jarak antar rak berkisar 10 cm.

Selain itu,pada bagian bibir rak harus dilakban agar ulat tidak keluar. Kandang juga bisa berupa kontainer plastik yang bisa langsung beli di toko

Setelah kandang tersedia, mulai menyediakan media pemeliharaan. Media yang digunakan campuran dedak halus atau Polard dengan ampas tahu kering. Media ini kemudian di masukkan ke dalam rak atau kontainer yang digunakan sebagai kandang dengan ketebalan sekitar ¼ bagian dari total ketinggian wadah.

Sedangkan bibit ulat hongkong sendiri dapat dibeli di peternak lain maupun di toko pakan hewan. “Kalau bisa di kaki meja atau rak di kasih minyak gas, untuk menghindari serangan hewan predator,” tambah Hadi.

Teknik budidaya selanjutnya yang harus diperhatikan adalah pakan ulat Hongkong. Ulat ini adalah larva yang bisa memakan apa saja.  Mulai dari pakan ayam, ampas tahu, batang pohon pisang, batang talas, pepaya, labu siam, dan sawi. Pastikan untuk mengganti pakan secara berkala agar tidak membusuk dan menjadi sarang penyakit bagi ulat hongkong. “Itu saja caranya. Gampang to? “ujar Hadi yang dengan jelas memberikan sebagian ilmunya tentang budidaya ulat hongkong. (rul)