Tirka Widanti, Postdoctoral di Rumah Partai

150

(bisnissurabaya.com) – A postdoctoral scholar adalah seseorang yang memegang gelar doktor yang terlibat dalam proyek riset sebagai mentor atau terlibat dalam training ilmiah. Tujuannya memperoleh keahlian profesional yang diperlukan demi mengembangkan karier yang dipilihnya.

Postdoc ini merupakan posisi riset sementara yang dipegang oleh seseorang yang telah menyelesaikan studi doktornya. Durasi program ini berkisar dari 6 bulan sampai 5 tahun yang didedikasikan untuk program riset. Ada juga postdoc lain yang disebut “teaching post-docs” dimana si-personal bersangkutan memilih karier sebagai pengajar (dosen).

Mereka ini biasanya lazim disebut sebagai research fellow atau research associate atau kadang disebut sebagai research assistant professor. Temuan yang menarik yang dikatakan regets bahwa di Inggris terutama dibidang engineering, tak banyak lulusan doktor yang tertarik dengan program postdoc. Alasannya, gaji yang mereka dapatkan ketika bekerja di luar (perusahaan) biasanya lebih tinggi. Tirka Widanti, adalah salah seorang yang  menjalankan postdoc.

Perempuan yang akrab disapa Ika, ini mengatakan dirinya mengikuti jenjang  S3 tanpa target. Ia yakin pengetahuan pasti ada gunanya. Hal ini telah dibuktikannya selama 8  tahun setelah berhasil mendapat gelar doktor tahun 2009. Di Indonesia, gelar doktor ditulis di depan nama yang berhak dengan mencantumkan singkatan Dr. Huruf D ditulis dengan huruf besar, dan r dengan huruf kecil. Berbeda dengan “dr” untuk dokter yang huruf d-nya ditulis dalam huruf kecil). Walau banyak sekali salah kaprah masyarakat menulisnya DR. Yang penting masyarakat bisa membedakannya tak perlu dipermasalahkan.

“Selama 8 tahun perjalanan  ada banyak tawaran sekaligus tantangan karir. Tanpa menunggu lama direkrut untuk menjadi dosen tetap, staf ahli, konsultan dan yang paling menggembirakan buat saya yang tak pernah terpikirkan adalah diangkat menjadi Adjunct Professor di India sejak 2016 dan kini ditempatkan di Amity University, Gurgaon, Haryana, India yang mengharuskan saya bolak-balik India paling tidak 2 kali setahun,” ujar Ika.

Sebenarnya, sebelum Ika, menyepakati sebuah komitmen di India, ia  sudah masuk organisasi politik besar yakni PDI Perjuangan. Dibawah kepemimpinan Dr Ir Wayan Koster, M.M., Ika, ditunjuk sebagai Wakil Ketua Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, periode 2015 – 2020.

Ika, mengatakan banyak pertanyaan dari keluarga, teman dan bahkan masyarakat umum kenapa dirinya berpolitik? Apa yang mau ia dicari lagi? “ I am a simple woman with no high ambition” cetusnya.

“Saya ingin berbagi dan sekaligus memaparkan bahwa paradigma politik di dunia politik itu tidaklah se’keramat’ yang dipikirkan. Kenyataan yang saya alami bahwa di dunia bisnis, dunia pendidikan bahkan ‘politik’nya melebihi kata politik itu sendiri.  Kebetulan saya mengajar mata kuliah Manajemen Sumber Daya Manusia, Administrasi Pelayanan Publik dan Gender Sensitization and Women Empowerment. Semua mata kuliah tersebut berhubugan dengan sentuhan manusia,” ujar Ika, yang selama ini telah melakukan postdoc di Australia dan India.

Menurut Ika, kini saatnya postdoc ia lakukan di negeri sendiri. Aktivitas ini berlangsung sejak ia ditetapkan duduk di struktur partai sampai 2020 nanti.  “Banyak sekali pengetahuan yang saya dapatkan disini terlebih Pak Koster juga seorang akademisi, pakar matematika yang jago memetakan budaya Bali dan sangat concern dengan dunia pendidikan.  Hal yang menarik buat saya selama melaksanakan postdoctoral di rumah partai ini adalah ketika Pak Koster, memberikan ceramah kepada lapisan masyarakat level manapun.  Sebagai seorang anggota sudah tentu saya ingin “sepintar” Pak Koster juga,” tandasnya. (ard)

Komitmen sebagai Anggota Organisasi Politik 

Ika meyakinkan diri sendiri bahwa ia berkomitmen keorganisasi politik dengan tujuan belajar ilmu politik dan sekaligus bisa mengabdikan atau menyumbangkan pemikiran, tenaga untuk pemenuhan kebutuhan organisasi sekecil apapun. “Tak ada hal lain, karena saya harus pastikan diri saya mampu memenuhi kebutuhan primer keluarga sebelum terjun kesebuah organisasi. Artinya, saya mesti mampu mengatur waktu berkarier saya di luar organisasi, yang artinya pula organisasi pun memahami dan memaklumi kegiatan yang dilakukan bisa dibagi perbidang organisasi. Sebuah organisasi apapun ada tata tertib, ada KTA, serta aturan lainnya,” tuturnya lebih lanjut.

Bagi Ika, berada didalam sebuah organisasi politik bukanlah semata bertujuan menjadi “calon” baik itu dilegislatif maupun eksekutif.  “Saya sudah mendapatkan manfaatnya yaitu memperkaya ilmu pengetahuan politik, dapat menyosialisasikan kepada masyarakat, bahwa perempuan atau masyarakat janganlah tabu mendengar kata politik. Politik ini justru harus dikenal, dimengerti dan dipahami.  Kenyataan bahwa di dunia bisnis, dunia pendidikan lebih kental politisnya, gimana dong? Silakan beri argumentasi pendapat saya ini, karena ini yang saya rasakan selama 30 tahun, baik di dunia kerja maupun pendidikan,” ujarnya.

Ika juga tunduk dan mengikuti aturan yang telah disepakati, termasuk apa yang telah ditetapkan DPP PDI Perjuangan untuk mengusung Cagub-Cawagub Bali Koster-Cok Ace (KBS-Ace) dan Cabup dan Cawabup Gianyar Agus Mahaystra-A.A. Mayun (Aman). (ard)