Mana Hasil Riset Anda?

35

(bisnissurabaya.com) – PERTANYAAN  demikian yang sejak era modern ini bila diajukan ke perguruan-perguruan tinggi (negeri), akan muncul berbagai alasan. Ujung-ujungnya tak punya duit untuk melakukan sesuatu riset yang bertopik demi kebutuhan pembangunan nasional ini. Yang mungkin dapat dianggap menonjol adalah dilakukan oleh Balai-Balai Penelitian & Pengembangan (Balitbang) beberapa kementerian. Contoh, Balitbang Kementerian Pertanian beberapa waktu lalu menghasilkan bibit unggul padi-ciherang-aromatik. Ketika dicobakan pada areal persawahan di suatu desa si Jawa Barat, ternyata menghasilkan selain volume produknya cukup tinggi, juga enak dan bau sedaap.

Kritik Presiden Jokowi (28/11) di depan Pertemuan Tahunan Bank Indonesia tahun 2017 di Jakarta, yang berniat anggaran untuk riset harus diperbesar. “Tiga puluh tahun saya beri contoh berulang-ulang, tiap tahun fakultas dan jurusan ya itu-itu saja,” kata insinyur alumnus Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada Jogjakarta itu. Katanya, dunia sudah berubah, namun di Indonesia belum juga ada jurusan digital economy, jurusan logistic, retail management, toko online di perguruan tinggi kita. Dunia sudah berubah masa jurusannya. Kalau enggak mau berubah ya ditinggal zaman.”

Mengapa presiden menjadi sewot macam itu? Mungkin jawabannya terletak pada pengalamannya dalam pertemuan-pertemuan internasional. “Dalam konferensi di mana pun juga, para kepala negara bingung menghadapi ‘disruptive innovation’ yang cepat sekali. (Dalam) revolusi industri yang sangat cepat ini, kita mau ke mana, bagaimana mengantisipasi itu?” ujar presiden.

Nampaknya dia bukan hanya ‘malu’ pada para kepala negara yang sudah berpikiran jauh ke depan menghadapi kemajuan sains dan teknologi di jaman ini dan masa depan. Namun juga beberapa ketimpangan dalam pengelolaan pemerintahan dan terutama tentang pertumbuhan sektor perekonomian dan bisnis kita.

Apabila perguruan tinggi dipacu untuk mengadakan berbagai riset yang hasilnya dapat dimanfaatkan untuk diimplementasikan dalam proses pembangunan nasional kita, kiranya para rektor perguruan tinggi atau dekan fakultas dan ketua jurusan, sudah seharusnya bisa menerapkan anjuran Presiden itu. Kalau tidak sanggup, sebaiknya berhenti saja menjabat. Masalahnya, dari mana duit untuk membiayai suatu riset yang berbobot? Sebab, riset tanpa biaya atau biaya sangat minim, tidak mungkin menghasilkan apa-apa. Apa biayanya mau ditarik dari mahasiswa? Kasihan dong! Itu tak patut dan kebacut! Karenanya adalah bijaksana apabila anggaran untuk riset akan ditambah. Ya tentu saja hanya untuk perguruan tinggi negeri. Untuk yang swasta, boleh bersukur kalau juga ada yang kebagian. Pada hal, di beberapa perguruan tinggi swasta sering “tersimpan” tenaga-tenaga ahli untuk melakukan riset menurut fokus studinya. Jadi, tinggal kebijaksanaan dari kebijakan pejabat-pejabat di Kementerian Pendidikan Nasional kita.

Masih ada waktu untuk ‘memburu’ dan menangani “disruptive innovation” (inovasi/temuan yang mengacau/membingungkan; pen.) yang merisaukan para kepala negara dunia itu. Yang penting, kalau anggaran diterima ataupun sudah diterima dan ditambah nilainya, hendaknya benar-benar untuk riset yang positif menghasilkan.  Yang penting, obyek riset itu adalah hal yang dibutuhkan dalam kondisi pembangunan nasional atau daerah pada saat kini. Pada sektor apa saja, karena pembangunan nasional kita meliputi segala sector kehidupan. Slogan masa dulu adalah “pembangunan serba muka, fisik maupun psikis manusia Indonesia.”

Namun masih juga menjadi pertanyaan, apabila jurusan-jurusan khusus seperti seruan Jokowi itu, maka apakah para lulusannya dapat tertampung di lapangan pekerjaan di negara kita? Sebab, belum banyak perusahaan (juga dalam pemerintahan) yang sudah membuka bidang-bidang lapangan kerja sesuai seruan tersebut. Mungkin hal itu yang antara lain membuat perguruan tinggi plus calon mahasiswa untuk mengadakan jurusan disiplin ilmu tadi. Jadi, harus serempak, yakni perusahaan-perusahaan maupun pemerintah mulai menyatakan membutuhkan tenaga kerja sector tersebut, dan pihak perguruan tinggi sudah menyiapkan mahasiswanya pada jurusan yang dikehendaki.